Pembangunan jalan layang, apartemen, hingga proyek transportasi seperti MRT terus berkembang di Jakarta untuk mendukung mobilitas masyarakat. Namun di balik pesatnya pembangunan tersebut, sektor konstruksi menjadi salah satu penyumbang emisi terbesar di dunia. Laporan Global Status Report for Buildings and Construction 2024/2025 dari United Nations Environment Programme (UNEP) mencatat sektor bangunan menyumbang sekitar 34% emisi CO₂ global, sebagian besar berasal dari produksi material seperti semen dan baja yang membutuhkan energi tinggi.
Kondisi ini membuat pembangunan tidak lagi hanya berfokus pada kekuatan dan fungsi bangunan, tetapi juga pada bagaimana tetap menjaga lingkungan. Karena itu, penting untuk memahami terlebih dahulu peran infrastruktur dalam pembangunan. Lalu, sebenarnya apa itu infrastruktur?
Infrastruktur Sebagai Fondasi
Infrastruktur adalah fasilitas fisik dan sistem yang mendukung aktivitas masyarakat. Contohnya dapat dilihat langsung dalam kehidupan sehari-hari, seperti MRT dan LRT sebagai transportasi publik, jalan tol yang menghubungkan antar wilayah, jaringan listrik, hingga sistem air bersih. Keberadaan infrastruktur menjadi pondasi penting dalam mobilitas manusia, distribusi barang, serta pelayanan publik agar berjalan lebih efisien, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Kenapa Pembangunan Harus Ramah Lingkungan?
Meningkatnya pembangunan membuat kebutuhan energi dan material ikut bertambah. Karena itu, pembangunan masa kini perlu memperhatikan dampak lingkungan agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang. Bangunan ramah lingkungan dirancang tidak hanya tetap fungsional, tetapi juga lebih efisien dalam penggunaan sumber daya.
Beberapa cara membangun yang ramah lingkungan antara lain:
Memaksimalkan pencahayaan dan ventilasi alami untuk mengurangi penggunaan listrik dan pendingin ruangan.
Menggunakan material yang lebih berkelanjutan, seperti material lokal atau material dengan jejak karbon lebih rendah.
Mengelola air dan limbah dengan baik, misalnya melalui pemanfaatan air hujan dan pengurangan limbah konstruksi.
Meningkatkan efisiensi energi bangunan, sehingga konsumsi energi tetap rendah selama masa operasional.
Menyesuaikan desain dengan lingkungan sekitar, termasuk penyediaan ruang hijau dan area resapan air.
Pembangunan ramah lingkungan menjadi langkah penting agar infrastruktur tetap bermanfaat dalam jangka panjang tanpa mengabaikan lingkungan. Upaya ini sekaligus mendukung SDGs poin 9, terutama dalam mendorong pembangunan infrastruktur yang lebih efisien, inovatif, dan ramah lingkungan melalui penggunaan energi serta material yang lebih bertanggung jawab.
Melalui Program Studi Teknik Sipil Universitas Pertamina, mahasiswa dibekali kemampuan merancang infrastruktur yang tidak hanya kuat secara struktur, tetapi juga efisien dan ramah lingkungan melalui mata kuliah seperti Hidrologi dan Drainase. Pembelajaran ini mendorong lahirnya lulusan yang mampu menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan di masa depan.
Tertarik mempelajari lebih jauh? Kunjungi laman penerimaan mahasiswa baru Universitas Pertamina di https://pmb.universitaspertamina.ac.id/ dan mulai perjalananmu menjadi bagian dari insinyur masa depan.
Daftar Pustaka
Kredit foto : Darya Jum / Unsplash