Dalam beberapa tahun terakhir, isu perubahan iklim semakin mendesak. Salah satu penyumbang signifikan emisi gas rumah kaca berasal dari aktivitas logistik dan rantai pasok, terutama dari sektor transportasi dan distribusi. Data yang dilansir dari GoodStats menunjukkan bahwa sektor transportasi menyumbang sekitar 8,44 gigaton CO₂e secara global pada 2024, menjadikannya salah satu kontributor terbesar emisi dunia.
Hal ini menunjukkan bahwa proses dalam rantai pasok, mulai dari produksi, distribusi, hingga pengelolaan limbah, memiliki peran besar terhadap peningkatan emisi. Karena itu, muncul pendekatan green logistics sebagai solusi nyata dalam upaya cara mengurangi gas rumah kaca di sektor industri.
Apa Itu Green Logistics?
Green logistics atau logistik hijau bisa dipahami sebagai cara baru dalam mengelola rantai pasok dengan pendekatan yang lebih sadar lingkungan. Tidak lagi sekadar fokus pada kecepatan dan efisiensi distribusi, konsep ini melihat keseluruhan proses, mulai dari pengadaan bahan baku, produksi, transportasi, hingga distribusi dan pengelolaan limbah sebagai satu kesatuan yang perlu dikelola secara berkelanjutan.
Dalam praktiknya, green logistics mendorong setiap tahapan tersebut agar mampu menekan dampak negatif terhadap lingkungan. Artinya, perusahaan tidak hanya berupaya mengurangi polusi udara atau limbah, tetapi juga mulai mengoptimalkan penggunaan energi agar tidak berlebihan, sekaligus meningkatkan efisiensi operasional dalam jangka panjang.
Pendekatan ini juga sejalan dengan temuan dalam penelitian mahasiswa/i Universitas Pertamina yang mengkaji penerapan rantai pasok hijau dalam sektor pariwisata. Studi tersebut menunjukkan bahwa integrasi aspek lingkungan dalam rantai pasok tidak hanya membantu menekan dampak ekologis, tetapi juga dapat meningkatkan efisiensi dan nilai tambah bagi kegiatan ekonomi secara keseluruhan.
Dengan begitu, green logistics tidak lagi sekadar identik dengan istilah “ramah lingkungan”. Lebih dari itu, ia menjadi strategi cerdas yang menggabungkan kepedulian terhadap lingkungan dengan efisiensi bisnis, dua hal yang kini semakin sulit dipisahkan di era keberlanjutan.
Kenapa Green Logistics Penting untuk Mengurangi Gas Rumah Kaca?
Dalam konteks perubahan iklim, sektor logistik memiliki peran yang jauh lebih besar daripada yang sering disadari. Aktivitas dalam rantai pasok, terutama transportasi dan distribusi menjadi salah satu kontributor utama emisi gas rumah kaca karena tingginya ketergantungan pada energi berbasis fosil.
Laporan dari International Energy Agency (IEA) menunjukkan bahwa sektor transportasi menyumbang sekitar 24% emisi CO₂ global dari penggunaan energi (Faliana, 2025). Angka ini menggambarkan betapa besarnya dampak mobilitas barang dan manusia terhadap peningkatan emisi global.
Dari data yang ada, terungkap bahwa emisi tidak hanya dihasilkan dari satu titik, melainkan terakumulasi di sepanjang alur logistik yang saling terhubung. Setiap keputusan mulai dari pemilihan pemasok, moda transportasi, hingga sistem distribusi secara tidak langsung membentuk jejak karbon sebuah produk.
Oleh karena itu, transformasi menuju green logistics menjadi krusial. Pendekatan ini memungkinkan pengurangan emisi dilakukan secara sistematis, bukan parsial. Dengan mengoptimalkan seluruh rantai pasok agar lebih efisien dan rendah emisi, green logistics hadir sebagai salah satu strategi paling relevan dalam cara mengurangi gas rumah kaca secara signifikan dan berkelanjutan.
Cara Mengurangi Gas Rumah Kaca lewat Green Logistics
Berikut beberapa strategi yang juga selaras dengan praktik dalam jurnal tersebut:
1. Transportasi Rendah Emisi
Mengganti kendaraan konvensional dengan:
Dalam studi kasus Desa Wisata Alamendah, penggunaan transportasi rendah emisi seperti shuttle listrik dan jalur jalan kaki terbukti mampu menekan emisi dari mobilitas wisatawan
2. Penggunaan Bahan Lokal (Local Sourcing)
Mengurangi jarak distribusi = mengurangi emisi karbon.
Contohnya:
Selain menekan emisi, strategi ini juga memperkuat ekonomi lokal, seperti yang diterapkan dalam rantai pasok wisata halal di jurnal tersebut
3. Efisiensi Energi di Gudang & Produksi
Beberapa langkah yang bisa dilakukan:
4. Pengurangan Limbah (Waste Management)
Green logistics juga fokus pada:
Dalam jurnal, pengelolaan limbah dilakukan melalui kompos, pengurangan plastik, hingga bank sampah desa
5. Digitalisasi Rantai Pasok
Transformasi digital membantu:
Mengurangi penggunaan kertas
Mengoptimalkan rute distribusi
Meningkatkan transparansi dan efisiensi
Ini juga mengurangi aktivitas fisik yang tidak perlu, sehingga menekan emisi secara tidak langsung.
Green Logistics dalam Praktik Nyata
Studi yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Pertamina di Desa Wisata Alamendah menunjukkan bahwa green logistics tidak hanya teori. Implementasinya meliputi:
Kuliner berbasis bahan lokal halal
Akomodasi ramah lingkungan
Transportasi rendah emisi
Edukasi lingkungan bagi wisatawan
Pendekatan ini membuktikan bahwa rantai pasok hijau bisa diterapkan secara nyata bahkan di skala komunitas, sekaligus mendukung keberlanjutan ekonomi dan lingkungan.
Penerapan green logistics tidak hanya berdampak pada efisiensi rantai pasok, tetapi juga memiliki keterkaitan erat dengan tujuan pembangunan global dalam Sustainable Development Goals (SDGs). Pendekatan ini secara langsung mendukung SDG 12 (Responsible Consumption and Production), karena mendorong setiap proses dalam rantai pasok menjadi lebih ramah lingkungan, efisien, dan minim limbah.
Selain itu, green logistics juga berkontribusi pada SDG 13 (Climate Action) melalui berbagai upaya pengurangan emisi, seperti penggunaan transportasi rendah karbon, efisiensi energi, serta pengelolaan limbah yang lebih berkelanjutan. Tidak hanya dari sisi lingkungan, pendekatan ini turut mendukung SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) dengan membuka peluang ekonomi baru yang lebih berkelanjutan, termasuk pemberdayaan pelaku usaha lokal dan penciptaan lapangan kerja yang lebih inklusif.
Dengan demikian, green logistics tidak hanya berperan sebagai solusi teknis dalam rantai pasok, tetapi juga menjadi bagian dari transformasi menuju sistem ekonomi yang mampu terus berkembang tanpa mengorbankan keberlanjutan lingkungan.
Teknik Logistik Universitas Pertamina
Green logistics bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan di era perubahan iklim. Melalui berbagai strategi seperti efisiensi transportasi, penggunaan bahan lokal, hingga pengelolaan limbah, pendekatan ini menjadi salah satu cara mengurangi gas rumah kaca yang paling efektif di sektor industri.
Mahasiswa Teknik Logistik Universitas Pertamina telah menunjukkan bahwa inovasi di bidang ini bisa diterapkan secara nyata dan berdampak langsung bagi masyarakat. Ke depan, peran generasi muda sangat penting dalam mengembangkan solusi logistik yang lebih hijau dan berkelanjutan.
Kalau kamu tertarik mendalami bidang ini dan ingin jadi bagian dari solusi masa depan, kamu bisa mulai langkahmu di Teknik Logistik Universitas Pertamina. Cari tahu lebih lanjut dan daftar melalui: https://pmb.universitaspertamina.ac.id/
Iskandar, Y. A., Vikaliana, R., Irawan, A., Putri, N. A., Tansy, A. F., Zola, A. R., & Rahmaputra, R. A. (2025). Rantai Pasok Hijau dan Halal sebagai Strategi Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan di Desa Wisata Alamendah. IKRA-ITH ABDIMAS, 9(3), 165-173. https://journals.upi-yai.ac.id/index.php/IKRAITH-ABDIMAS/article/download/5614/4336