Emisi karbon dari sektor energi global mencapai 37,8 miliar ton pada 2024, menurut laporan International Energy Agency (IEA). Sektor ini menjadi penyumbang terbesar gas rumah kaca, terutama dari pembangkit listrik, transportasi, dan penggunaan bahan bakar fosil.
Di Indonesia, sektor energi juga menyumbang lebih dari separuh total emisi nasional. Artinya, aktivitas seperti penggunaan listrik di rumah, perjalanan harian, hingga pola konsumsi masyarakat memiliki dampak langsung terhadap besarnya jejak karbon yang dihasilkan setiap hari.
Masalahnya, jejak karbon tersebut tidak terlihat secara langsung oleh pengguna. Tanpa data yang jelas, masyarakat sulit mengetahui aktivitas mana yang paling banyak menghasilkan emisi. Kondisi ini mendorong pemanfaatan teknologi Internet of Things (IoT) untuk membantu mengukur dan menemukan cara mengurangi jejak karbon secara lebih akurat dan real-time.
Begini Cara Mengurangi Jejak Karbon dengan IoT
IoT memungkinkan berbagai perangkat terhubung dan mengirimkan data penggunaan energi secara otomatis. Dengan sistem ini, pengguna dapat memahami sumber emisi dan mengambil tindakan lebih cepat untuk menekannya. Beberapa cara mengurangi jejak karbon dengan IoT antara lain:
1. Memantau konsumsi listrik secara real-time
Smart meter dan sensor IoT menampilkan penggunaan listrik secara langsung, sehingga pengguna dapat mengetahui peralatan mana yang paling boros energi.
2. Menghemat energi melalui otomatisasi
Perangkat rumah pintar dapat mematikan lampu, pendingin ruangan, atau peralatan lain saat tidak digunakan, sehingga konsumsi energi menjadi lebih efisien.
3. Mengoptimalkan penggunaan bahan bakar dalam transportasi
IoT pada kendaraan dan aplikasi navigasi membantu menentukan rute paling efisien dan mengurangi waktu terjebak kemacetan, yang berdampak pada penurunan emisi.
4. Melacak jejak karbon dari aktivitas ekonomi
Teknologi digital yang terintegrasi dengan IoT dapat menghitung estimasi emisi dari setiap transaksi, sehingga pengguna dapat memahami dampak lingkungan dari kebiasaan konsumsi mereka.
Pendekatan ini telah dikembangkan oleh mahasiswa Universitas Pertamina melalui inovasi SanPay, kartu pembayaran yang mampu memperkirakan jejak karbon dari setiap transaksi. Sistem ini mengaitkan kategori pengeluaran dengan faktor emisi, sehingga pengguna dapat melihat dampak lingkungan dari aktivitas ekonomi mereka secara langsung.
Pengembangan sistem pelacakan jejak karbon seperti integrasi IoT pada SanPay menunjukkan bahwa solusi digital untuk isu lingkungan membutuhkan keahlian ilmu komputer, mulai dari perancangan sistem, pengolahan data, hingga perhitungan emisi secara real-time. Kompetensi tersebut dipelajari di Program Studi Ilmu Komputer Universitas Pertamina, yang membekali mahasiswa dengan kemampuan merancang teknologi berbasis data untuk menjawab tantangan industri dan keberlanjutan.
Pemanfaatan IoT untuk mengurangi jejak karbon ini juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui inovasi teknologi, SDG 12 (Responsible Consumption and Production) dengan mendorong konsumsi yang lebih sadar lingkungan, serta SDG 13 (Climate Action) melalui pengurangan emisi berbasis data.
Jika kamu tertarik mengembangkan teknologi seperti IoT, analitik data, dan sistem digital yang berdampak langsung pada isu lingkungan, Program Studi Ilmu Komputer di Universitas Pertamina dapat menjadi langkah awal untuk membangun karir di bidang teknologi berkelanjutan.
Daftar Pustaka: