Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terkait program nuklir bukanlah isu baru. Konflik ini mengakar sejak penarikan sepihak AS dari kesepakatan nuklir 2015 (JCPOA) pada 2018, yang kemudian diikuti pengembalian sanksi ekonomi terhadap Teheran. Sejak saat itu, Iran secara bertahap meningkatkan kapasitas pengayaan uraniumnya sebagai respons terhadap tekanan Washington. Dalam konteks inilah, perundingan terbaru di Jenewa pada 26 Februari menjadi penting: kedua negara kembali mencoba membuka ruang diplomasi setelah periode panjang saling tuding dan ancaman.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa Iran tidak akan tunduk pada tekanan, tetapi tetap melihat peluang solusi “saling menguntungkan”. Sementara utusan khusus AS, Steve Witkoff, menekankan bahwa syarat “nol pengayaan uranium” adalah harga mati bagi Washington.
Tarik Ulur Soal Pengayaan Uranium dan Sanksi
Inti perundingan terletak pada dua isu besar: hak Iran melakukan pengayaan uranium dan mekanisme pencabutan sanksi ekonomi.
AS menilai pengayaan uranium di dalam negeri Iran berpotensi menjadi jalur menuju senjata nuklir. Badan Energi Atom Internasional, International Atomic Energy Agency, sebelumnya melaporkan bahwa Iran memiliki stok uranium diperkaya hingga 60 persen—tingkat yang hanya selangkah dari kategori senjata. Washington meminta Iran menghentikan pengayaan dan melepaskan stok uranium diperkaya tinggi.
Sebaliknya, Teheran menegaskan bahwa pengayaan adalah haknya berdasarkan rezim non-proliferasi nuklir, selama digunakan untuk tujuan damai. Iran memberi sinyal kesiapan untuk berkompromi, seperti mengekspor sebagian stok uranium atau menurunkan tingkat kemurnian, asalkan hak pengayaan tetap diakui dan sanksi dicabut secara bertahap.
Perbedaan pandangan juga muncul soal jadwal dan mekanisme pencabutan sanksi. Iran menuntut peta jalan yang “logis dan berbasis kepentingan bersama”, sementara AS ingin langkah pembatasan nuklir dilakukan lebih dulu sebelum sanksi dilonggarkan.
Diplomasi di Bawah Bayang-Bayang Kekuatan Militer
Perundingan berlangsung saat AS memperkuat kehadiran militernya di Timur Tengah, termasuk pengerahan kapal induk. Presiden AS bahkan menyebut kemungkinan serangan terbatas jika negosiasi gagal. Strategi ini mencerminkan diplomasi koersif—negosiasi yang berjalan bersamaan dengan tekanan militer.
Iran merespons dengan sikap tegas dan ancaman balasan jika diserang. Dinamika ini menunjukkan bahwa diplomasi tidak selalu berlangsung dalam suasana netral, tetapi sering kali berada di bawah tekanan kekuatan strategis.
Mediator dari Oman berupaya menjaga komunikasi tetap terbuka, sementara IAEA dan forum internasional lain menjadi pengawas teknis dan politik atas perkembangan isu ini. Jika pembicaraan menemui jalan buntu, isu tersebut berpotensi kembali dibawa ke Dewan Keamanan PBB.
Peran Hubungan Internasional: Membaca Diplomasi Lebih dari Sekadar Negosiasi
Kasus Iran–AS memperlihatkan bagaimana disiplin Hubungan Internasional (HI) berperan penting dalam memahami dinamika global. Perundingan ini tidak hanya soal uranium dan sanksi, tetapi tentang keseimbangan kekuatan, legitimasi hukum internasional, dan strategi negosiasi antarnegara.
Dalam perspektif HI:
Teori realisme menjelaskan penggunaan tekanan militer sebagai alat tawar.
Liberalisme institusional menyoroti peran mediator dan lembaga internasional seperti IAEA.
Teori negosiasi membantu memahami bagaimana kedua negara mencari titik temu di tengah perbedaan kepentingan domestik dan global.
Mahasiswa dan praktisi HI mempelajari bagaimana konflik dapat dikelola melalui diplomasi, bagaimana sanksi digunakan sebagai instrumen kebijakan luar negeri, serta bagaimana kompromi dibangun dalam sistem internasional yang penuh rivalitas.
Perundingan Jenewa menjadi contoh nyata bahwa diplomasi modern adalah kombinasi antara dialog, tekanan, kalkulasi strategis, dan kepentingan nasional. Memahami kasus seperti ini membantu publik melihat bahwa di balik setiap pernyataan politik dan ancaman militer, terdapat proses panjang negosiasi yang menentukan arah stabilitas global.
Bagi generasi muda yang ingin memahami cara kerja diplomasi, konflik, keamanan energi, hingga politik global, bidang Hubungan Internasional menawarkan ruang belajar yang strategis. Di Program Studi Hubungan Internasional Universitas Pertamina, mahasiswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga menganalisis kasus aktual seperti perundingan Iran–AS untuk melatih kemampuan berpikir kritis, membaca peta geopolitik, serta memahami dinamika kebijakan luar negeri. Jika ingin terlibat dalam dunia diplomasi, negosiasi internasional, atau analisis global, HI bisa menjadi langkah awal untuk memahami dan berkontribusi dalam percaturan politik dunia.
Referensi
- Bloomberg Technoz. (2026, Februari 22). AS-Iran Lanjutkan Perundingan Nuklir di Jenewa pada 26 Februari. https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/100398/as-iran-lanjutkan-perundingan-nuklir-di-jenewa-pada-26-februari/2
- Jurnas.com. (2026, Februari 22). Negosiasi Nuklir AS-Iran Macet, Perundingan dilanjut Maret. https://www.jurnas.com/artikel/1654306/negosiasi-nuklir-as-iran-macet-perundingan-dilanjut-maret/
- Foto: Unsplash/foto-Fatemeh Momtez