Logo Universitas Pertamina
ID / EN
Berita Populer

Pakar Ungkapkan Risiko Konsumtif di Balik Tren PayLater di Kalangan Digital Natives


Published by: Universitas Pertamina Rabu, 12 November 2025
Dibaca: 1830 kali
Perkembangan teknologi finansial (fintech) telah mengubah cara masyarakat bertransaksi, salah satunya melalui layanan PayLater atau Buy Now, Pay Later (BNPL) yang memungkinkan konsumen membeli produk sekarang dan membayar nanti dalam bentuk cicilan. Meski kerap dianggap sebagai solusi praktis dalam mengelola keuangan harian, terutama saat pemasukan belum tersedia, kemudahan ini juga memicu tantangan baru berupa meningkatnya perilaku konsumtif dan kurangnya kontrol finansial, terutama di kalangan generasi muda yang sangat terpapar budaya digital dan promosi instan.

Menurut data terbaru Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Maret 2025, outstanding kredit Buy Now, Pay Later (BNPL) di sektor perbankan tercatat mencapai Rp22,78 triliun, atau naik sebesar 32,18 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini tidak hanya mencerminkan meningkatnya minat masyarakat terhadap sistem transaksi digital, tetapi juga menjadi sinyal kuat adanya potensi risiko finansial yang perlu diantisipasi—mulai dari kredit macet, ketergantungan konsumsi, hingga jebakan utang jangka panjang.

Kenaikan signifikan ini juga mengindikasikan bahwa semakin banyak konsumen memanfaatkan layanan PayLater untuk memenuhi gaya hidup, bukan sekadar kebutuhan pokok. Survei OJK (2024) menunjukkan bahwa 26,5% pengguna PayLater berada pada rentang usia 18–25 tahun, sementara kelompok usia 26–35 tahun mendominasi dengan persentase sebesar 43,9%. Temuan ini menegaskan bahwa generasi muda merupakan pengguna utama layanan PayLater, sekaligus kelompok yang paling rentan terhadap pola konsumsi tanpa kendali.

Pola ini mencerminkan pergeseran perilaku konsumsi yang semakin permisif terhadap utang jangka pendek, bahkan untuk pengeluaran yang bersifat impulsif. Tanpa kesadaran finansial yang memadai, penggunaan PayLater berisiko mendorong konsumen masuk ke dalam siklus pembelian reaktif dan kebiasaan menunda tanggung jawab pembayaran, yang dalam jangka panjang dapat mengganggu stabilitas ekonomi pribadi.

Hal ini disampaikan oleh Ita Musfirowati Hanika, S.A.P., M.I.Kom., Dosen Komunikasi Universitas Pertamina yang juga merupakan pakar literasi media. Ia menegaskan bahwa kebiasaan konsumsi yang terbentuk melalui layanan PayLater tidak dapat dilepaskan dari cara media dan platform digital membingkai gaya hidup.

“Ketika transaksi ditawarkan dengan kemudahan dan narasi kenyamanan, banyak orang tanpa sadar terdorong untuk belanja secara impulsif—bukan karena butuh, tetapi karena terbiasa dengan sistem yang menunda rasa memiliki beban,” ujarnya.

Menurutnya, risiko konsumtif bukan semata persoalan finansial, tetapi juga bagian dari persoalan komunikasi dan representasi media yang menggiring pola pikir masyarakat untuk melihat konsumsi sebagai bentuk aktualisasi diri. Maka dari itu, literasi media menjadi keterampilan yang sangat dibutuhkan untuk membantu masyarakat—khususnya generasi muda—mengenali pengaruh simbolik dan psikologis dari pesan-pesan komersial yang mereka temui setiap hari di dunia digital.

Lebih lanjut, Ita menambahkan bahwa banyak pengguna saat ini membeli barang bukan semata karena kebutuhan, melainkan karena dorongan sosial yang terbentuk dari eksposur iklan personal berbasis algoritma dan budaya Fear of Missing Out (FOMO) yang terus direproduksi oleh media sosial. Budaya ini menciptakan tekanan psikologis terselubung untuk mengikuti tren, menjaga citra diri digital, dan akhirnya memicu perilaku konsumtif yang sulit dikendalikan.

“Kita hidup di era di mana konsumsi menjadi bentuk ekspresi diri. Media sosial memainkan peran besar dalam pembentukan identitas digital, sehingga keputusan membeli sering kali bukan karena butuh, tapi karena ingin diakui,” ungkapnya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kemudahan teknologi harus diimbangi dengan pemahaman kritis terhadap pesan media dan dampak jangka panjang dari keputusan keuangan. Masyarakat perlu diberdayakan dengan edukasi literasi media dan finansial, agar tidak hanya menjadi konsumen aktif tetapi juga pengguna yang cerdas dalam menghadapi ekosistem digital yang semakin kompleks.

Ingin memahami lebih dalam bagaimana komunikasi memengaruhi cara kita berpikir, bertindak, dan mengambil keputusan di era digital? temukan jawabannya di Program Studi Komunikasi Universitas Pertamina—tempat belajar tentang literasi media, budaya digital, komunikasi strategis, dan isu-isu komunikasi kontemporer yang berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari.

Thumbnail
Bagikan:
Bagikan ke WhatsApp
Bagikan ke Facebook
Bagikan ke X
Bagikan ke Telegram
Bagikan ke LinkedIn

Tinggalkan Balasan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalan UU ITE

© 2026 Universitas Pertamina.
All rights reserved