Setiap 13 Februari, dunia memperingati Hari Radio Sedunia yang diinisiasi oleh UNESCO sebagai bentuk apresiasi terhadap radio sebagai salah satu media komunikasi paling berpengaruh secara global. Peringatan ini menegaskan kembali peran strategis radio dalam menyampaikan informasi, membangun opini publik, serta menjangkau masyarakat hingga ke wilayah terpencil (Warid, 2026).
Sejarah Awal Radio
Sejarah radio berakar pada penemuan gelombang elektromagnetik oleh para ilmuwan seperti James Clerk Maxwell, Heinrich Hertz, dan Guglielmo Marconi pada akhir abad ke-19. Pada tahap awal, radio dimanfaatkan terutama untuk kepentingan komunikasi maritim, yakni mengirimkan pesan sandi Morse antara kapal dan daratan.
Memasuki abad ke-20, radio berkembang menjadi media penyiaran massal yang memainkan peran penting dalam penyebaran informasi, hiburan, hingga propaganda. Seiring kemajuan teknologi, sistem penyiaran radio pun terus mengalami transformasi (Balai Loka Monitor Ternate, 2024).
Perkembangan Teknologi Radio
1. AM (Amplitude Modulation)
Teknologi AM bekerja dengan memodulasi amplitudo gelombang pembawa mengikuti sinyal audio, sementara frekuensinya tetap konstan. Sistem ini menjadi tonggak awal penyiaran radio komersial.
2. FM (Frequency Modulation)
FM memodulasi frekuensi gelombang pembawa sesuai sinyal audio dengan amplitudo yang stabil. Teknologi ini menghasilkan kualitas suara yang lebih jernih dan minim gangguan dibandingkan AM.
3. Radio Digital dan Streaming
Di era digital, radio tidak lagi terbatas pada perangkat konvensional. Siaran kini dapat diakses melalui streaming daring dengan kualitas audio yang lebih baik serta fitur interaktif, seperti podcast, siaran ulang, dan integrasi media sosial. Transformasi ini memperluas jangkauan radio sekaligus menyesuaikan diri dengan kebiasaan konsumsi media generasi digital.
Radio dan Peran AI di Indonesia
Pada 2026, UNESCO mengangkat tema global “Radio and Artificial Intelligence: Innovations that Empower, Ethics that Inspire, Trust that Endures.” Tema ini menyoroti bagaimana kecerdasan artifisial (AI) mendorong inovasi di industri radio, sekaligus menekankan pentingnya etika dan kepercayaan publik.
Di Indonesia, Radio Republik Indonesia (RRI) mulai memanfaatkan AI sebagai alat bantu dalam proses produksi siaran. Teknologi ini digunakan untuk merancang ide dan topik siaran, mempercepat penulisan naskah, hingga menganalisis tren dan preferensi pendengar. Dengan pendekatan ini, radio tetap adaptif terhadap dinamika audiens yang semakin terdigitalisasi (Komdigi, 2025).
Etika Penggunaan AI dalam Jurnalistik
Meski menawarkan efisiensi, penggunaan AI juga memunculkan tantangan etis. Pada 2025, Dewan Pers mencatat sekitar 1.200 wartawan dibebastugaskan oleh perusahaan media, sebagian dipicu oleh optimalisasi teknologi otomatisasi berbasis AI.
Fenomena ini memunculkan kekhawatiran atas pergeseran nilai dalam praktik jurnalistik. Pendekatan yang terlalu pragmatis, dimana kecepatan dan efisiensi lebih diutamakan tanpa mempertimbangkan verifikasi mendalam, berpotensi menurunkan kualitas informasi. Risiko terbesarnya adalah berkurangnya akses publik terhadap informasi yang utuh, akurat, dan berimbang.
Sebagai tanggapan, Dewan Pers mengimbau jurnalis untuk menggunakan AI secara bertanggung jawab. AI seharusnya berfungsi sebagai alat pendukung, bukan pengganti peran manusia dalam melakukan verifikasi, investigasi, dan penilaian etis. Transparansi kepada publik terkait penggunaan teknologi juga menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan (Dewan Pers, 2025).
Peran Strategis Ilmu Komunikasi Universitas Pertamina dalam Era Radio Berbasis AI
Transformasi radio di era AI menuntut lahirnya komunikator yang tidak hanya adaptif terhadap teknologi, tetapi juga memiliki fondasi etika dan literasi digital yang kuat. Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Pertamina, khususnya dalam kerangka Sustainable Development Goals (SDGs) seperti SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), memiliki peran strategis dalam menjawab tantangan ini.
Melalui kurikulum yang mengintegrasikan kajian media digital, jurnalisme, teknologi komunikasi, serta etika profesi, mahasiswa dibekali kemampuan untuk memahami sekaligus mengkritisi penggunaan AI dalam industri media. Pendekatan ini mendorong lahirnya insan komunikasi yang mampu memanfaatkan inovasi tanpa mengabaikan prinsip akurasi, independensi, dan kepentingan publik.
Di tengah arus digitalisasi, radio tetap relevan sebagai medium yang inklusif dan terpercaya. Dengan dukungan riset, literasi teknologi, dan penguatan etika jurnalistik, Ilmu Komunikasi Universitas Pertamina berkontribusi dalam mencetak generasi komunikator yang siap menjaga keberlanjutan media, memperkuat demokrasi informasi, dan membangun kepercayaan publik di era kecerdasan artifisial.
Tertarik ingin memahami lebih dalam mengenai etika dalam jurnalisme, dan peran media massa di tengah arus perkembangan digital? Mari bergabung bersama Prodi Komunikasi Universitas Pertamina, dengan mendaftarkan diri pada link berikut https://pmb.universitaspertamina.ac.id/
Referensi: