Logo Universitas Pertamina
ID / EN
Berita Populer

Hari Primata Indonesia: Upaya Konservasi Berbasis Masyarakat Jadi Kunci Perlindungan Primata


Published by: Universitas Pertamina Kamis, 5 Februari 2026
Dibaca: 156 kali
Setiap tanggal 30 Januari Indonesia memperingati Hari Primata sebagai bentuk dari kesadaran dan kepedulian untuk melindungi salah satu kekayaan alam yang hidup di negeri ini. Mencegah kepunahan hewan yang paling cerdas dan kompleks juga menjadi tujuan dari peringatan ini. 


Mengapa Indonesia Memperingati Hari Primata?

Indonesia memperingati Hari Primata karena berdasarkan data dari Mammal Diversity Database, Indonesia menjadi rumah bagi 66 spesies primata, mencapai angka 12% dari total keseluruhan spesies primata yang ada di seluruh dunia. Pemerintah Indonesia melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/8/2018 secara resmi memasukan 37 jenis primata ke dalam daftar satwa yang dilindungi oleh negara (Adyn, 2025).

Dari data terbaru dari IUCN (International Union for Conservation of Nature) Indonesia memiliki Daftar Merah Spesies yang Terancam Punah. IUCN melaporkan ada 12 spesies yang berada pada status Critically Endangered (Kritis), 25 jenis dinilai Endangered (Genting), 26 jenis dinilai Vulnerable (Rentan), 1 jenis Near Threatened (Hampir Terancam), dan 2 jenis masih Data Deficient (Informasi Kurang) (Adyn, 2025). 


Konflik Manusia – Orangutan (HOC) di Sumatera 

Di dunia ada 25 spesies yang sudah terancam, 4 spesies diantaranya adalah primata endemik Indonesia, yaitu Orangutan Tapanuli, Monyet Ekor Babi, Langur Borneo dan Tarsius Sangihe (Hananto, 2025). Lebih dari 15 spesies primata berada di wilayah Sumatera, menjadikan Sumatera menjadi wilayah dengan peta sebaran spesies primata terbanyak di Indonesia.

Pada tahun 2017-2018, laju deforestasi di Sumatera mencapai 89.694,9 km2 (Atmoko, 2025). Hal ini menjadikan Sumatera memiliki catatan buruk tentang deforestasi yang menjadi penyebab utama dari konflik antara manusia dengan satwa. Salah satu contoh deforestasi untuk kepentingan masyarakat yang berdampak pada ekosistem Orangutan Tapanuli adalah proses pembangunan PLTA Batang Boru, padahal hutan yang dibabat itu adalah rumah mereka (Hananto, 2025).

Konflik manusia-orangutan (HOC) di Aceh menjadi salah satu bahan penelitian dosen Teknik Lingkungan Universitas Pertamina.

Penelitian ini menunjukkan bahwa pengelolaan konflik manusia–orangutan (HOC) di Aceh akan lebih efektif jika melibatkan masyarakat lokal. Strategi konservasi tidak hanya perlu menjaga kelestarian alam, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan masyarakat. 

Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan yang fleksibel dan menyesuaikan dengan kondisi sosial dan ekonomi setempat. Keterlibatan dan masukan dari masyarakat secara berkelanjutan sangat penting agar pengelolaan HOC dapat berjalan efektif dan berkelanjutan.


Ke depan, upaya konservasi perlu memperbaiki strategi yang belum optimal, memastikan pembagian sumber daya yang adil, serta menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab masyarakat. Dengan cara ini, konflik dapat dikurangi, sekaligus mendukung kelestarian orangutan Sumatra dan keanekaragaman hayati Aceh dalam jangka panjang.


Peran Universitas Pertamina untuk Lingkungan

Melalui Program Studi Teknik Lingkungan, Universitas Pertamina (UPER) hadir bagi calon mahasiswa yang ingin mendalami isu energi terbarukan, keberlanjutan, serta pengelolaan lingkungan. Kurikulum Teknik Lingkungan dirancang sesuai kebutuhan sektor energi dan tantangan pembangunan berkelanjutan, termasuk mendukung riset lingkungan dan konservasi keanekaragaman hayati, seperti upaya mitigasi konflik manusia–satwa dan pelestarian orangutan. 

UPER berkomitmen mencetak lulusan yang mampu berkontribusi dalam pengembangan solusi lingkungan, pengelolaan sumber daya alam, serta inovasi energi bersih di tingkat nasional maupun global.

Ingin berkontribusi lebih bagi lingkungan dan kekayaan alam di Indonesia? Mari bergabung bersama di Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Pertamina melalui link https://pmb.universitaspertamina.ac.id/

Daftar Pustaka:

Adyn, F. (2025). Keberadaan Primata Indonesia Masih Terancam Kepunahan. Retrieve from https://gaia.id/keberadaan-primata-indonesia-masih-terancam-kepunahan/

Hananto, A. (2025, May 15). 25 Primata Paling Terancam Punah di Dunia: Empat Berasal dari Indonesia. Retrieve From https://mongabay.co.id/2025/05/15/25-primata-paling-terancam-punah-di-dunia-empat-berasal-dari-indonesia/

Atmoko, T., Gunawan, H., Widyatmoko, A. Y., Setiyani, A. D., Broto, B. W., Arini, D. I. D., ... & Rianti, A. (2023). Mengenal Lebih Dekat Satwa Langka Indonesia dan Memahami Pelestariannya. 

Kredit foto  Thomas Gabernig // unsplash


Thumbnail
Bagikan:
Bagikan ke WhatsApp
Bagikan ke Facebook
Bagikan ke X
Bagikan ke Telegram
Bagikan ke LinkedIn

Tinggalkan Balasan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalan UU ITE

© 2026 Universitas Pertamina.
All rights reserved