Logo Universitas Pertamina
ID / EN
Berita Populer

Berapa Banyak Pohon yang Dibutuhkan untuk Mengurangi Jejak Karbon?


Published by: Universitas Pertamina Sabtu, 10 Januari 2026
Dibaca: 363 kali
Setiap 10 Januari, dunia memperingati Hari Sejuta Pohon, sebuah momentum untuk mengingat kembali peran pohon dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Di tengah krisis iklim global, penanaman pohon kerap dipandang sebagai solusi paling sederhana untuk mengurangi emisi karbon. Namun, jika ditinjau secara ilmiah, muncul pertanyaan mendasar: berapa banyak pohon yang sebenarnya dibutuhkan untuk mengurangi jejak karbon secara signifikan?

Seiring pertumbuhannya, pohon menyerap karbon dioksida (CO₂) dari atmosfer melalui proses fotosintesis dan menyimpannya dalam biomassa—mulai dari batang, akar, daun, hingga tanah. Karena kemampuan ini, hutan disebut sebagai carbon sink atau penyerap karbon alami. Secara global, hutan dan tanah menyerap sekitar 30 persen emisi karbon di atmosfer, sehingga berperan penting dalam memperlambat laju pemanasan global (MIT Climate, 2023).

Namun, kemampuan tersebut tidak bersifat tanpa batas. Daya serap karbon hutan sangat dipengaruhi oleh usia pohon, jenis vegetasi, kondisi tanah, dan iklim.


Hitungan Kasar yang Menggoda Tapi Menyesatkan

Secara sekilas, perhitungan karbon tampak sederhana. Pada tahun 2021, Amerika Serikat menghasilkan sekitar 5,6 miliar ton CO₂ dan gas rumah kaca lainnya (MIT Climate, 2023). Di sisi lain, satu hektare hutan rata-rata dapat menyimpan sekitar 50 ton karbon, atau setara dengan sekitar 180 ton CO₂ dari atmosfer. Dengan perhitungan ini, dibutuhkan lebih dari 30 juta hektare hutan baru hanya untuk mengimbangi emisi selama satu tahun—luasan yang setara dengan satu wilayah negara bagian besar.

Sebagai perbandingan, Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan bahwa saat ini terdapat sekitar 4 miliar hektare hutan di seluruh dunia (United Nations, 2022). Angka ini menunjukkan bahwa meskipun penanaman pohon penting, mengandalkannya sebagai solusi tunggal jelas tidak realistis.

Mengapa Menanam Pohon Saja Tidak Cukup?

Masalahnya, perhitungan karbon jauh lebih kompleks. Pertama, usia dan jenis pohon sangat menentukan. Hutan muda menyerap karbon lebih cepat, tetapi total simpanannya masih kecil. Sebaliknya, hutan tua menyimpan karbon dalam jumlah besar, namun laju penyerapannya melambat karena berada dalam kondisi seimbang—pohon tumbuh dan mati pada tingkat yang hampir sama.

Kedua, pohon bukan penyerap karbon permanen. Ketika pohon mati, terbakar, atau ditebang, karbon yang tersimpan akan kembali ke atmosfer. Artinya, hutan yang ditanam untuk menyerap karbon harus dilindungi dalam jangka panjang, bahkan lintas generasi.

Ketiga, keterbatasan lahan menjadi tantangan nyata. Banyak wilayah yang dulunya berhutan kini telah berubah menjadi kota, lahan pertanian, dan kawasan industri. Menanam hutan baru berarti harus bersaing dengan kebutuhan pangan dan pembangunan.

Berbagai kajian ilmiah justru menunjukkan bahwa melindungi hutan yang sudah ada jauh lebih efektif dibandingkan hanya fokus menanam pohon baru. Setiap tahun, dunia masih kehilangan sekitar 7,3 juta hektare hutan, dan hampir setengah hutan tropis global telah hilang. Menanam pohon sambil terus menebangi hutan ibarat menutup kebocoran tanpa menghentikan aliran air yang merusak.

Karena itu, pengurangan jejak karbon tidak bisa hanya bertumpu pada penanaman pohon. Dibutuhkan upaya lain yang bekerja langsung di sumber emisi, terutama dari aktivitas manusia sehari-hari.

Dari Pohon ke Perilaku: Inovasi Mahasiswa UPER

Di sinilah peran ilmu ekonomi menjadi sangat relevan. Jejak karbon bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga persoalan pilihan konsumsi, sistem insentif, dan perilaku pasar. Hal ini tercermin dari inovasi Sandi Pamungkas, mahasiswa Program Studi Ekonomi Universitas Pertamina, yang mengembangkan SanPay, platform pembayaran hijau berbentuk kartu yang mampu menghitung jejak karbon dari setiap transaksi secara instan.

Inovasi ini berangkat dari data Perserikatan Bangsa-Bangsa (2023) yang menunjukkan bahwa individu di kota besar rata-rata menghasilkan 20–30 kilogram CO₂ per hari, atau setara 7–10 ton CO₂ per tahun, terutama dari pola konsumsi harian seperti transportasi, makanan, dan belanja. Artinya, keputusan ekonomi sehari-hari memiliki kontribusi mengemisi karbon yang tidak kecil.

Melalui AI Carbon Calculation Engine, SanPay menaksir emisi karbon secara real time dengan mengaitkan kategori belanja dan faktor emisi produk. Dengan begitu, pengguna dapat melihat secara langsung dampak lingkungan dari setiap keputusan konsumsi. Pendekatan ini menunjukkan bagaimana ilmu ekonomi—melalui data, insentif, dan transparansi informasi—dapat mendorong perubahan perilaku yang lebih berkelanjutan.

Melalui Program Studi Ekonomi, mahasiswa tidak hanya belajar tentang angka dan pasar, tetapi juga tentang bagaimana kebijakan, inovasi, dan keputusan ekonomi dapat menjadi kunci solusi keberlanjutan. Dari pohon yang ditanam hingga transaksi yang dilakukan setiap hari, ekonomi berperan langsung dalam menentukan arah masa depan lingkungan.

Referensi
Kredit Foto : Abdul-ridwan/ Unsplash

Thumbnail
Bagikan:
Bagikan ke WhatsApp
Bagikan ke Facebook
Bagikan ke X
Bagikan ke Telegram
Bagikan ke LinkedIn

Tinggalkan Balasan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalan UU ITE

© 2026 Universitas Pertamina.
All rights reserved