Logo Universitas Pertamina
ID / EN
Berita Populer

Benarkah Pelukan Sehari Bisa Mengurangi Stress?


Published by: Universitas Pertamina Senin, 26 Januari 2026
Dibaca: 323 kali
Pernah merasa lelah padahal nggak habis ngapa-ngapain? Emosi gampang naik, tapi susah dijelaskan sebabnya. Bisa jadi itu tanda-tanda kamu sedang stres. Faktanya, kondisi ini dialami banyak orang di Indonesia. GoodStats Data mencatat bahwa tingkat stres masyarakat Indonesia berada di urutan ke-7 se-ASEAN, dengan skor 51,64 berdasarkan Global Emotions Report 2025.

Di tengah kondisi seperti ini, wajar kalau orang mulai mencari cara sederhana untuk merasa lebih tenang. Salah satunya yaitu dengan pelukan. Tapi, benarkah pelukan benar-benar bisa mengurangi stres?


Pelukan bisa jadi solusi stres? Ini Penjelasan Ilmiahnya!

Pelukan bukan sekadar bentuk perhatian atau ekspresi kasih sayang. Gestur sederhana itu ternyata dapat memberikan respon biologis yang tidak disangka-sangka. Saat seseorang dipeluk dalam kondisi yang aman dan nyaman, tubuh akan melepaskan hormon oksitosin. 

Oksitosin merupakan zat kimia alami di otak yang tersusun dari sembilan asam amino dan berfungsi sebagai hormon sekaligus pembawa pesan antar sel saraf. Oksitosin dikenal karena perannya dalam persalinan, menyusui, dan pembentukan ikatan emosional, seperti hubungan ibu dan anak atau pasangan (Neumann & Landgraf, 2012). Selain fungsi biologis, oksitosin juga berperan dalam interaksi sosial, karena dapat meningkatkan rasa percaya, membantu seseorang merasa lebih dekat dengan orang lain, serta memengaruhi cara otak memproses emosi dan pengalaman sosial, termasuk menekan produksi hormon kortisol (Buisman-Pijlman et al., 2014) — hormon yang meningkat saat tubuh mengalami stres.

Ketika kadar kortisol menurun, tubuh menjadi lebih rileks, detak jantung lebih stabil, dan emosi terasa lebih terkendali. Hal inilah yang menjelaskan mengapa sentuhan fisik seperti pelukan sering membuat seseorang merasa lebih tenang dan aman, meskipun persoalan yang dihadapi belum sepenuhnya terselesaikan.

Oleh karena itu, kontak fisik positif seperti pelukan dapat membantu meredakan stres, kecemasan, hingga perasaan tertekan, terutama ketika dilakukan secara rutin dan dalam hubungan yang sehat. Hubungan antara pelukan dan oksitosin ini menunjukkan bahwa kesehatan mental tidak hanya dipengaruhi oleh faktor individu, tetapi juga oleh kualitas relasi sosial yang terbangun dengan orang-orang terdekat.


Manfaat Pelukan bagi Kesehatan Mental

Di tengah tekanan hidup sehari-hari, pelukan sering kali dianggap hal sepele. Padahal, kontak fisik yang positif dapat memberikan dampak nyata bagi kesehatan mental.
  • Memberi rasa aman dan dukungan emosional
    Pelukan membantu seseorang merasa lebih tenang dan tidak sendirian, terutama saat sedang lelah secara mental.

  • Membantu mengurangi kecemasan
    Sentuhan yang menenangkan membuat tubuh lebih rileks, sehingga pikiran lebih mudah keluar dari siklus overthinking.

  • Memperkuat hubungan sosial
    Pelukan mempererat kedekatan emosional dengan orang terdekat, yang berperan penting dalam menjaga kesehatan mental dan ketahanan menghadapi stres.

Menjaga kesehatan mental merupakan bagian dari Sustainable Development Goals (SDGs) poin 3, yaitu Good Health and Well-Being. Pelukan sebagai bentuk dukungan emosional sederhana menunjukkan bahwa upaya menjaga kesehatan mental dapat dimulai dari interaksi sosial yang sehat, empati, dan rasa aman dalam kehidupan sehari-hari.

Di tengah tingginya tingkat stres masyarakat, Hari Pelukan Sedunia menjadi pengingat bahwa perhatian pada kesehatan mental bisa dimulai dari hal sederhana. Meski bukan solusi untuk semua masalah, pelukan yang dapat membantu menenangkan pikiran sekaligus menunjukkan kepedulian terhadap sesama.

Bersama Universitas Pertamina, mari tumbuh di lingkungan pendidikan yang mendorong kepedulian, kolaborasi, dan kesejahteraan bersama. Daftar sekarang dan mulai perjalanan belajarmu di https://pmb.universitaspertamina.ac.id/ 


DAFTAR PUSTAKA

Alodokter. (2022). Manfaat berpelukan untuk kesehatan dan kebahagiaan yang sayang dilewatkan. Diakses melalui https://www.alodokter.com/manfaat-berpelukan-untuk-kesehatan-dan-kebahagiaan-yang-sayang-dilewatkan

GoodStats Data. (2025). Tingkat stress publik Indonesia ada di urutan ke-7 se-ASEAN. Diakses melalui  https://data.goodstats.id/statistic/tingkat-stress-publik-indonesia-ada-di-urutan-ke-7-se-asean-RGaiK

Neumann, I. D., & Landgraf, R. (2012). Balance of brain oxytocin and vasopressin: implications for anxiety, depression, and social behaviors. Trends in neurosciences, 35(11), 649-659.

Tops, M., Koole, S. L., IJzerman, H., & Buisman-Pijlman, F. T. (2014). Why social attachment and oxytocin protect against addiction and stress: insights from the dynamics between ventral and dorsal corticostriatal systems. Pharmacology Biochemistry and Behavior, 119, 39-48.

Kredit Foto : Mike Scheid// Unsplash



Thumbnail
Bagikan:
Bagikan ke WhatsApp
Bagikan ke Facebook
Bagikan ke X
Bagikan ke Telegram
Bagikan ke LinkedIn

Tinggalkan Balasan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalan UU ITE

© 2026 Universitas Pertamina.
All rights reserved