Banjir kembali meluas di berbagai wilayah Indonesia pada awal 2026. Di Demak, Jawa Tengah, banjir yang terjadi pada Februari 2026 belum sepenuhnya surut setelah tanggul Sungai Tuntang dan Sungai Cabean jebol. Lebih dari 6.000 kepala keluarga atau sekitar 20 ribu jiwa terdampak. Pada periode yang sama, Grobogan, Jawa Tengah, mencatat 9.736 kepala keluarga terdampak di 45 desa akibat hujan deras dan kiriman air dari hulu.
Di Jakarta Selatan, pada awal Februari lalu, 61 RT dan enam ruas jalan terendam akibat hujan intensitas tinggi dan luapan kali. Sementara itu, di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, banjir kembali menerjang Desa Hutanabolon pada Februari 2026, saat sekitar 1.600 warga masih mengungsi dari bencana akhir 2025.
Rangkaian kejadian tersebut tidak berdiri sendiri. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan bahwa sepanjang 2025 terjadi 3.233 bencana alam di Indonesia, dengan mayoritas berupa banjir dan cuaca ekstrem (Databoks, 2026a). Bahkan pada awal 2026 saja, selama periode 1–25 Januari, tercatat sudah terjadi 128 kejadian banjir dan 15 tanah longsor di berbagai provinsi (Databoks, 2026b). Angka ini menegaskan bahwa banjir telah menjadi risiko dominan dalam struktur kebencanaan nasional.
Risiko yang Dapat Diprediksi, Dampak yang Berulang
Dalam kerangka manajemen risiko, banjir adalah kombinasi antara hazard (ancaman), exposure (paparan), vulnerability (kerentanan), dan capacity (kapasitas respons). Ketika salah satu elemen lemah—misalnya tanggul tidak terpelihara atau tata ruang tidak disiplin—maka dampak menjadi masif.
Secara konseptual, manajemen risiko (risk management) adalah proses sistematis untuk mengidentifikasi, menilai, dan memitigasi ancaman atau ketidakpastian yang dapat memengaruhi organisasi atau sistem. Proses ini mencakup analisis kemungkinan dan dampak risiko, penyusunan strategi untuk meminimalkan kerugian, serta pemantauan efektivitas langkah mitigasi (Harvard Business School Online, 2023).
Profesor Robert Simons dari Harvard Business School menegaskan bahwa setiap organisasi beroperasi dalam lingkungan berisiko. Tantangannya bukan menghilangkan risiko, melainkan memahami bagaimana risiko muncul dan bagaimana mengendalikannya secara strategis.
Walaupun konsep ini awalnya berkembang dalam dunia bisnis, prinsipnya relevan dalam tata kelola kebencanaan. Pemerintah daerah dan nasional juga merupakan organisasi yang harus mengelola risiko secara sistematis.
Data BNPB menunjukkan bahwa banjir merupakan kejadian berulang yang secara statistik dapat diprediksi, sehingga pendekatan reaktif berbasis tanggap darurat tidak lagi memadai untuk menjawab kompleksitas risikonya.
Diperlukan strategi pengurangan risiko jangka panjang yang terintegrasi, mulai dari perencanaan tata ruang berbasis peta risiko, penguatan infrastruktur adaptif disertai pemeliharaan rutin, pengembangan sistem peringatan dini berbasis integrasi data hidrologi, hingga koordinasi lintas wilayah dalam pengelolaan daerah aliran sungai.
Selain itu, peningkatan literasi risiko di tingkat masyarakat menjadi kunci untuk mengurangi kerentanan dan memperkuat kapasitas komunitas dalam menghadapi banjir yang semakin intens dan berulang.
Keilmuan Manajemen Risiko dalam Kebencanaan
Situasi tersebut menegaskan bahwa pengelolaan kebencanaan memerlukan kapasitas manajerial yang sistematis dan terukur. Tidak hanya aspek teknis yang dibutuhkan, tetapi juga kemampuan menyusun prioritas kebijakan, mengalokasikan sumber daya secara efektif, mengendalikan kinerja program mitigasi, serta memimpin koordinasi dalam kondisi krisis.
Ilmu manajemen berkontribusi melalui pendekatan analitis dan strategis yang memungkinkan risiko diantisipasi sejak tahap perencanaan, sehingga pengurangan dampak bencana dapat menjadi bagian integral dari agenda pembangunan berkelanjutan.
Bagi calon mahasiswa yang ingin memahami bagaimana strategi, kepemimpinan, dan pengelolaan risiko diterapkan dalam konteks kebencanaan dan pembangunan berkelanjutan, Program Studi Manajemen Universitas Pertamina (UPER) menjadi pilihan tepat untuk mengembangkan kapasitas tersebut secara komprehensif dan aplikatif. Referensi
- BBC News Indonesia. (2026). Banjir kembali terjang Tapanuli Tengah, 1.600 warga masih mengungsi. https://www.bbc.com/indonesia/articles/c3wle3py57do
- Databoks. (2026a). Banjir dan cuaca ekstrem bencana terbanyak di Indonesia pada 2025. Katadata. https://databoks.katadata.co.id/lingkungan/statistik/6976bd9e5f124/banjir-dan-cuaca-ekstrem-bencana-terbanyak-di-indonesia-pada-2025
- Databoks. (2026b). Daftar provinsi yang dilanda banjir dan longsor awal 2026. Katadata. https://databoks.katadata.co.id/lingkungan/statistik/6977055ee8594/daftar-provinsi-yang-dilanda-banjir-dan-longsor-awal-2026
- DetikNews. (2026). Banjir di Jakarta meluas pagi ini: 61 RT terendam, 6 ruas jalan tergenang. https://news.detik.com/berita/d-8363739/banjir-di-jakarta-meluas-pagi-ini-61-rt-terendam-6-ruas-jalan-tergenang
- Harvard Business School Online. (2023). What is risk management? https://online.hbs.edu/blog/post/risk-management
- Metro TV News. (2026a). 20 ribu jiwa warga Demak terdampak banjir. https://www.metrotvnews.com/read/KvJCJQrZ-20-ribu-jiwa-warga-demak-terdampak-banjir
- Metro TV News. (2026b). Banjir Grobogan meluas, 9.736 kepala keluarga terdampak. https://www.metrotvnews.com/read/NrWC8RRg-banjir-grobogan-meluas-9-736-kepala-keluarga-terdampak
- Kredit foto: unsplash/iqro rinaldi