Setiap hari Minggu terakhir di bulan Januari, dunia memperingati Hari Kusta Sedunia. Peringatan ini pertama kali diprakarsai oleh Raoul Follereau, seorang jurnalis asal Prancis, pada tahun 1954. Tujuan utama peringatan tersebut adalah untuk meningkatkan kesadaran global terhadap penyakit kusta serta kondisi para penderitanya, tidak hanya dari aspek medis, tetapi juga dari sisi kemanusiaan. Raoul Follereau menekankan bahwa pasien kusta membutuhkan empati, perhatian, serta tindakan nyata dari masyarakat luas (Subayang, 2026).
Apa Itu Kusta dan Penyebabnya?
Berdasarkan informasi dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, kusta atau lepra merupakan penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit ini menyerang jaringan kulit, saraf tepi, serta saluran pernapasan. Gejala kusta umumnya ditandai dengan munculnya lesi pada kulit berupa bercak, ruam, luka, atau benjolan, serta disertai gangguan saraf yang dapat menyebabkan melemahnya fungsi anggota gerak, terutama pada tungkai.
Penularan kusta terjadi melalui paparan droplet berupa ludah atau dahak dari penderita dalam jangka waktu yang lama dan secara berulang. Fakta ini sekaligus meluruskan anggapan keliru di masyarakat bahwa kusta merupakan penyakit yang mudah dan cepat menular. Kusta tidak dapat ditularkan melalui kontak singkat seperti berjabat tangan atau duduk berdampingan dengan penderita (Yunar AMK, 2023).
Kusta di Indonesia
Stigma sosial yang masih kuat menjadi salah satu faktor yang menyulitkan upaya penanggulangan kusta. Meskipun pemerintah menargetkan Indonesia bebas kusta pada tahun 2030, masih terdapat berbagai tantangan dalam implementasinya. Selain stigma negatif, keterlambatan diagnosis juga berkontribusi terhadap tingginya angka kasus kusta.
Menurut Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan, dr. Ina Agustina, pada tahun 2023 tercatat sebanyak 12.798 kasus baru kusta di Indonesia. Angka tersebut menempatkan Indonesia pada peringkat ketiga dunia dalam jumlah kasus baru kusta. Penularan kusta masih banyak ditemukan di wilayah Indonesia bagian timur (Kemenkes, 2025).
Permasalahan penyakit kulit menular tidak hanya terbatas pada kusta. Penyakit scabies atau kudis juga masih menjadi persoalan serius, terutama di lingkungan dengan kepadatan penduduk tinggi, seperti pesantren. Penelitian yang dilakukan oleh Putra, mahasiswa Ilmu Komputer Universitas Pertamina, menunjukkan bahwa scabies mudah menyebar karena ditularkan oleh tungau yang hidup di lapisan kulit manusia dan berpindah melalui kontak kulit secara langsung (Putra, 2024).
Peran Artificial Intelligence dalam Deteksi Dini Penyakit Kulit
Dalam upaya mencegah penyebaran penyakit kulit secara lebih luas, pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) mulai dikembangkan sebagai alat bantu deteksi dini. Pada penelitiannya, Putra mengambil sampel dari sejumlah anak asrama di salah satu pesantren dengan mempertimbangkan faktor lingkungan serta kebiasaan berbagi barang pribadi. Penelitian tersebut menggabungkan metode machine learning dengan pendekatan Explainable AI (XAI) (Putra, 2024).
Explainable AI merupakan jenis kecerdasan buatan yang dirancang agar proses pengambilan keputusan dapat dipahami oleh manusia. Pendekatan ini memungkinkan transparansi dan akuntabilitas dalam sistem AI, sehingga pengguna dapat memahami dasar rekomendasi atau hasil yang diberikan. Dengan demikian, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap teknologi AI dalam bidang kesehatan dapat meningkat (Sari, 2025).
Pemanfaatan XAI diharapkan dapat membantu tenaga kesehatan dan pihak terkait dalam melakukan deteksi dini penyakit kulit secara lebih cepat dan akurat. Dengan diagnosis yang lebih awal, risiko penularan dapat ditekan, sekaligus mendukung upaya pemerintah dalam pengendalian penyakit kulit menular di Indonesia.
Ilmu Komputer Universitas Pertamina Dorong Penguasaan Teknologi AI
Program Studi Ilmu Komputer di Universitas Pertamina membekali mahasiswa dengan kompetensi komputasi, pengembangan perangkat lunak, serta analisis data untuk mendukung transformasi digital di berbagai sektor industri. Mahasiswa mempelajari perancangan dan pengembangan sistem komputasi dengan memperhatikan efisiensi, keamanan, dan keberlanjutan.
Kurikulum Ilmu Komputer Universitas Pertamina menekankan pembelajaran berbasis praktik, termasuk melalui praktikum machine learning yang memperkuat pemahaman mahasiswa dalam pemodelan data dan pengembangan kecerdasan buatan. Melalui pendekatan akademik yang selaras dengan kebutuhan industri, lulusan dipersiapkan untuk berkontribusi dalam pengembangan teknologi digital dan solusi inovatif bagi masa depan industri Indonesia.
Pelajari lebih lanjut tentang program studi Ilmu Komputer Universitas Pertamina dan daftarkan diri Anda untuk menjadi bagian dari generasi perubahan berikutnya melalui
Ilmu Komputer Universitas Pertamina Dorong Penguasaan Teknologi AI
Program Studi Ilmu Komputer di Universitas Pertamina membekali mahasiswa dengan kompetensi komputasi, pengembangan perangkat lunak, serta analisis data untuk mendukung transformasi digital di berbagai sektor industri. Mahasiswa mempelajari perancangan dan pengembangan sistem komputasi dengan memperhatikan efisiensi, keamanan, dan keberlanjutan.
Kurikulum Ilmu Komputer Universitas Pertamina menekankan pembelajaran berbasis praktik, termasuk melalui praktikum machine learning yang memperkuat pemahaman mahasiswa dalam pemodelan data dan pengembangan kecerdasan buatan. Melalui pendekatan akademik yang selaras dengan kebutuhan industri, lulusan dipersiapkan untuk berkontribusi dalam pengembangan teknologi digital dan solusi inovatif bagi masa depan industri Indonesia. (MD)
Pelajari lebih lanjut tentang program studi Ilmu Komputer Universitas Pertamina dan daftarkan diri Anda untuk menjadi bagian dari generasi perubahan berikutnya melalui