Logo Universitas Pertamina
ID / EN
Berita Kampus

Waspada Sedari Dini, Mahasiswa Program Studi Teknik Geofisika Universitas Pertamina Adakan Sosialisasi Pentingnya Langkah-Langkah Mitigasi Bencana kepada Pelajar SMA


Published by: Universitas Pertamina Senin, 27 Mei 2024
Dibaca: 2029 kali
Secara geografis, Indonesia berada di wilayah lingkaran api pasifik atau cincin api pasifik dimana merupakan pertemuan tiga lempeng tektonik dunia, seperti Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia dan Lempeng Pasifik. Selain itu, Indonesia juga merupakan negara kepulauan, dengan pegunungan aktif. Kondisi tersebut sangat berpotensi terjadinya bencana alam, seperti halnya gempa bumi dan tsunami (Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG, 2024) ).

Berdasarkan catatan Data Informasi Bencana Indonesia (DIBI) dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) 2024, sepanjang pertengahan tahun 2024, bencana alam gempa bumi sudah terjadi sebanyak 16 kali dan tsunami 6 kali. Dampaknya tidak hanya mengalami kerugian secara bangunanan dan materi saja, namun juga merenggut korban jiwa. Hal ini tentunya sangat mengkhawatirkan, sehingga perlu adanya langkah antisipasi atau preventif dari pihak pemerintah maupun pihak berwenang lainnya yang melibatkan masyarakat.

Menangkar permasalahan tersebut, sejumlah mahasiswa Program Studi Teknik Geofisika Universitas Pertamina (UPER) menyelenggarakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di SMA Muhammadiyah 18 Jakarta. PkM tersebut diberi nama “DISMAS: Disaster Mitigation Awareness from Universitas Pertamina”, dengan tema “Mitigasi Bencana Gempa Bumi dan Tsunami”.

DISMAS merupakan salah satu output dari Mata Kuliah Mitigasi Bencana Alam yang ada di Program Studi Teknik Geofisika. Mata kuliah tersebut membahas cara-cara mengurangi dampak bencana alam melalui langkah-langkah mitigasi. Dimulai dengan pengenalan konsep dasar mitigasi bencana, dilanjutkan dengan kontribusi ilmu geofisika dalam memahami dan memprediksi fenomena alam. 

Selain itu juga, mempelajari materi tentang mitigasi gempa bumi, tsunami, gunung api, banjir, dan longsor disertai strategi spesifik, seperti desain bangunan tahan gempa, sistem peringatan dini, dan infrastruktur pengendalian banjir. Juga dibahas dampak perubahan iklim terhadap bencana hidrometeorologi dan kebakaran hutan, serta proyek-proyek mitigasi bencana. Peran BMKG, konsep K3L, dan strategi komunikasi risiko bencana juga diuraikan. Pada akhirnya, mahasiswa diminta mempresentasikan tugas besar yang mencakup seluruh aspek mitigasi bencana alam.

Diadakan kegiatan PkM ini selain bertujuan untuk memberikan informasi mengenai mitigasi bencana gempa bumi dan meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana gempa bumi. Juga bertujuan untuk memberikan wawasan baru kepada mahasiswa terkait hal tersebut langsung dari ahlinya.

Kegiatan telah diselenggarakan pada Rabu, 22 Mei 2024 dengan rangkaian acara terdiri dari pemaparan materi dari 2 narasumber yang berasal dari pihak BMKG, sesi tanya jawab, dan games berupa melalui aplikasi Quizizz yang diikuti oleh peserta dalam acara sosialisasi. Materi sosialisasi pertama membahas terkait potensi gempa bumi di Jakarta yang disampaikan oleh Sidiq Hargo Pandadaran, S.Tr., MDM. Kemudian materi kedua terkait langkah selamat untuk menghadapi gempa bumi dan tsunami yang disampaikan oleh Anak Agung Istri Dwilyantari, S.Tr. Geof.

Dalam pemaparan materinya, Sidiq menjelaskan, pertama keterkaitan terjadinya antara gempa bumi dan tsunami. Kedua, tanda-tanda peringatan alam tsunami, seperti merasakan gempa dengan guncangan kuat atau lama, melihat tsunami dapat didahului oleh penurunan permukaan laut yang cepat saat laut surut, memperlihatkan terumbu karang, batu, dan ikan di dasar laut. Serta tsunami sering datang ke darat sebagai dinding air, dan dengan cepat membanjiri daratan, mendengar aktivitas laut yang tidak normal, dinding air, dan tsunami yang mendekat menciptakan suara yang keras mirip dengan suara kereta api atau pesawat jet, dan mencium bau garam yang sangat menyengat. Ketiga, dijelaskan juga bahwa waktu tiba tsunami lokal di Indonesia antara 10 menit sampai 60 menit bahkan ada yang kurang dari 10 menit.

Sedangkan pada materi kedua, Dwilyantari menjelaskan, untuk selamat menghadapi gempa bumi dan tsunami, sebelumnya kita harus memperhatikan dan mengenali beberapa hal, seperti mengenali rumah, sekolah, maupun kantor kita. Apakah berada di tempat yang sering terjadi bencana alam, apakah berada di pesisir pantai, atau berada di dekat dataran tinggi. Bangun rumah yang kuat atau tahan gempa, menyiapkan kebutuhan darurat dan keterampilan Pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K), menyusun rencana darurat (buat san tetapkan rencana evakuasi keluarga/organisasi, dll, bangun kesiapsiagaan masyarakat, sosialisasi dan berlatih secara berkala, serta selalu update tentang berita atau informasi terbaru seputar bencana alam pada media atau saluran yang terpercaya.

Pelaksanaan PkM ini berjalan dengan baik sampai selesai. “Saya bangga menjadi bagian dari kegiatan PkM DISMAS. Melalui program ini, kami mampu menciptakan momentum yang kuat dalam meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana. Bencana alam dapat datang kapanpun dan dimanapun. Oleh karenanya, penting untuk mengetahui dan memahami upaya-upaya mitigasi bencana. Dengan memahami betapa pentingnya langkah-langkah mitigasi bencana, kami berharap dapat memberikan kontribusi yang berarti bagi keselamatan Bersama. Terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam menyukseskan PkM ini. Saya berharap, sosialisasi mitigasi bencana ini akan terus berlanjut sebagai wadah bagi inovasi, kolaborasi, dan pengembangan diri bagi semua pihak yang terlibat,” ujar Nisrina Syafa Hanifah, ketua pelaksana kegiatan. [NA].

Thumbnail Thumbnail Thumbnail Thumbnail
Bagikan:
Bagikan ke WhatsApp
Bagikan ke Facebook
Bagikan ke X
Bagikan ke Telegram
Bagikan ke LinkedIn

Tinggalkan Balasan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalan UU ITE

© 2026 Universitas Pertamina.
All rights reserved