Proyek ini dipimpin oleh Hyundai E&C dan melibatkan berbagai lembaga ternama seperti Korea National Oil Company (KNOC), Seoul National University, serta Hanyang University. Riset bertajuk “Development of Conceptual and Basic Design Technologies for Sequentially Deployable and Expandable Floating CCS Facilities and CO₂ Injection Systems for the Operation of Distributed CCS Storage Sites in Southeast Asia” ini berfokus pada pengembangan teknologi penyimpanan karbon di kawasan Asia Tenggara.
Universitas Pertamina menjadi satu-satunya mitra dari luar Korea Selatan yang berpartisipasi aktif dalam proyek penelitian internasional ini. Kegiatan pembukaan proyek digelar di Kampus Universitas Pertamina dan dihadiri oleh Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Wawan Gunawan A. Kadir, M.S., IPU.; Prof. Dr. techn. Djoko Triyono (Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan, dan Kerja Sama); serta Agus Abdullah, Ph.D. (Research Team Leader Universitas Pertamina).
Turut hadir pula Mr. Richard Chaigoo Lee (Hyundai Engineering & Construction (Hyundai E&C)) dan Muhammad Husni Mubarak Lubis (Direktur Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Pertamina), yang turut memberikan dukungan terhadap pengembangan riset dan kolaborasi internasional di bidang energi berkelanjutan.
Pada kesempatan tersebut, Prof. Wawan menyampaikan bahwa kerja sama ini menjadi langkah penting bagi kampus dalam memperkuat riset dan inovasi energi bersih.
“Kolaborasi ini menjadi langkah penting bagi Universitas Pertamina dalam memperkuat kapasitas riset dan inovasi di bidang energi berkelanjutan. Kami berharap kerja sama ini tidak hanya memperluas wawasan keilmuan, tetapi juga memberi dampak nyata bagi upaya Indonesia mencapai Net Zero Emission pada tahun 2060. Komitmen ini tentu memerlukan peran aktif dari dunia pendidikan dan penelitian,” ujar Prof. Wawan.
Lebih lanjut, Prof. Wawan menuturkan bahwa kolaborasi lintas negara seperti ini membuka peluang besar bagi peneliti muda untuk berkembang. Mereka bisa belajar langsung dari para ahli internasional sekaligus terlibat dalam berbagai proyek riset dan pengembangan.
“Keterlibatan langsung dalam penelitian bersama mitra global akan mempercepat proses transfer pengetahuan dan teknologi, serta memberikan pengalaman berharga bagi mahasiswa dan peneliti muda dalam mewujudkan masa depan energi berkelanjutan,” tambahnya.
Kegiatan dilanjutkan dengan penandatanganan nota kesepahaman oleh Prof. Dr. techn. Djoko Triyono disusul dengan presentasi proyek oleh Mr. Richard Chaigoo Lee dari Hyundai E&C. Dalam pemaparannya, Mr. Lee menjelaskan rencana pengembangan fasilitas penyimpanan karbon dioksida (CO₂) lepas pantai yang dirancang secara modular dan dapat diperluas bertahap sesuai kebutuhan.
“Teknologi floating CCS menjadi langkah penting dalam menghadirkan solusi penangkapan dan penyimpanan karbon yang lebih fleksibel dan efisien. Desain modular memungkinkan fasilitas ini diadaptasi sesuai kondisi geologi dan kebutuhan tiap wilayah, termasuk Indonesia yang memiliki potensi penyimpanan karbon besar di perairan laut dalam,” ujar Richard.
Richard menambahkan, kolaborasi ini diharapkan dapat mempercepat sinergi riset dan pengembangan keilmuan, serta membuka peluang baru dalam pengembangan teknologi CCS di kawasan Asia Tenggara.
“Kami percaya, kemitraan dengan Universitas Pertamina akan membuka jalan bagi riset dan inovasi yang berkelanjutan, serta memperkuat peran Indonesia sebagai salah satu pusat riset karbon di kawasan Asia Tenggara, khususnya dalam pengembangan teknologi penyimpanan karbon lepas pantai,” tutup Richard.
Penelitian ini berada di bawah program International Collaboration in Energy R&D yang didanai oleh MOTIE (Ministry of Trade, Industry and Energy) dan dikelola oleh KETEP (Korea Institute of Energy Technology Evaluation and Planning). Proyek akan berlangsung selama 42 bulan, mulai dari 1 Juli 2025 hingga 31 Desember 2028.
Melalui kolaborasi ini, tim riset akan berfokus pada pengembangan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) lepas pantai yang inovatif dan ramah lingkungan. Teknologi ini diharapkan dapat menjadi solusi nyata dalam menekan emisi karbon di kawasan Asia Tenggara, khususnya di negara-negara penghasil energi fosil seperti Indonesia dan Malaysia.
Selain itu, penelitian juga mencakup kajian tentang efisiensi energi, keselamatan struktural, serta integrasi teknologi digital untuk pemantauan emisi karbon secara real-time. Dengan pendekatan ini, hasil riset diharapkan tidak hanya menghasilkan inovasi teknologi, tetapi juga mendukung kebijakan transisi energi bersih dan pencapaian target Net Zero Emission Indonesia 2060.
Sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) poin ke-13 Penanganan Perubahan Iklim, kolaborasi ini mencerminkan komitmen Universitas Pertamina dalam memperkuat kontribusi akademisi terhadap riset energi bersih global.
Kolaborasi ini menjadi langkah bagi Universitas Pertamina untuk memperluas peran strategisnya sebagai pusat riset dan inovasi di bidang energi berkelanjutan, serta mendorong terwujudnya masa depan yang lebih hijau bagi Indonesia dan kawasan Asia Tenggara.