Logo Universitas Pertamina
ID / EN
Berita Kampus

Universitas Pertamina Gelar Sharing Session ASCOPE: Bahas Masa Depan Diplomasi Energi ASEAN


Published by: Universitas Pertamina Senin, 22 September 2025
Dibaca: 218 kali
Jakarta, 22 September 2025 – Program Studi Hubungan Internasional, Fakultas Komunikasi dan Diplomasi, Universitas Pertamina menggelar Pertamina Energy Institute Sharing Session bertema “From Oil Rigs to Green Grids: ASCOPE and the Future of ASEAN Energy Diplomacy” pada Senin (22/9) di Auditorium Universitas Pertamina (UPER). 

Acara ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan ASCOPE University Network 2025 yang membahas peran ASEAN Council on Petroleum (ASCOPE) dalam menghadapi transisi energi global. Hadir sebagai narasumber Margaretha Thaliharjanti (Vice President Pertamina Energy Institute) dan Novita Putri Rudiany, S.Hub.Int., M.A. (Dosen Hubungan Internasional Universitas Pertamina), dengan moderator Sindiana Lauza Nujaiba, Alumni Prodi HI UPER. Dalam paparannya,

Margaretha Thaliharjanti menekankan bahwa minyak bumi telah lama menjadi sumber energi utama dunia dan membentuk diplomasi global. Ia menambahkan, dengan GDP sekitar 4 triliun dolar AS dan populasi terbesar ketiga dunia, ASEAN merupakan pasar energi potensial. Tantangan Indonesia, khususnya Pertamina, adalah transisi dari energi fosil menuju energi baru terbarukan. “Energi dapat berperan sebagai instrumen strategis untuk memperkuat hubungan internasional, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan meningkatkan kesejahteraan bersama,” ujarnya. 

 Sementara itu, Novita Putri Rudiany menekankan bahwa diplomasi energi telah lama menjadi bagian dari politik global. “Dari dominasi Seven Sisters hingga terbentuknya OPEC dan krisis minyak 1970-an, energi terbukti bukan sekadar komoditas ekonomi melainkan instrumen strategis. Saat ini, diplomasi energi berfungsi ganda yaitu sebagai alat memperkuat posisi tawar sekaligus menjaga keamanan energi yang dijalankan di level bilateral, regional, hingga internasional melalui organisasi seperti OPEC, IRENA, dan IEA,” jelasnya. Antusiasme peserta terlihat dalam sesi tanya jawab. 

Salah satu pertanyaan menyinggung konsep energy justice atau keadilan energi, khususnya bagaimana transisi menuju energi bersih dapat berjalan tanpa meninggalkan kelompok masyarakat rentan. Pertanyaan ini memperkaya diskusi karena menunjukkan bahwa isu energi tidak hanya terkait teknologi dan diplomasi, tetapi juga menyangkut aspek keadilan sosial. “Indonesia sebagai negara dengan cadangan energi fosil dan populasi terbesar di ASEAN memiliki pengaruh besar terhadap pasokan energi kawasan maupun negara industri seperti Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, dan India. 

Pemanfaatan energi fosil yang menghasilkan emisi CO₂ menempatkan Indonesia pada posisi strategis dalam transisi menuju net zero emission. Isu ini bukan hanya nasional, tetapi juga global, dan menjadi bagian penting dalam kerja sama regional melalui wadah seperti ASCOPE,” ujar Prof. Dr. Ir. Rudy Sayoga Gautama, IPU., Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Pertamina. 

 Melalui kegiatan ini, Universitas Pertamina kembali menegaskan komitmennya untuk membekali mahasiswa dengan wawasan lintas disiplin dengan menghubungkan ilmu energi, politik, diplomasi, dan pembangunan berkelanjutan sekaligus memperkuat posisinya sebagai perguruan tinggi energi yang berorientasi pada tantangan global.

Thumbnail
Bagikan:
Bagikan ke WhatsApp
Bagikan ke Facebook
Bagikan ke X
Bagikan ke Telegram
Bagikan ke LinkedIn

Tinggalkan Balasan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalan UU ITE

© 2026 Universitas Pertamina.
All rights reserved