Pada tanggal 4 Juli 2023, mahasiswa/i Program Studi Teknik Elektro, Universitas Pertamina melaksanakan kunjungan industri ke PT. Perusahaan Listrik Negara (persero), Unit Induk Pusat Pengatur Beban Jawa, Madura dan Bali, UIP2B JAMALI. Kunjungan industri ini ditujukan untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada para mahasiswa/i tentang bagaimana proses sistem pengaturan beban dilakukan di UIP2B JAMALI. Hampir 70% pengaturan beban di Jawa, Madura dan Bali dimonitor dan dikendalikan dari UIP2B JAMALI, Cinere, Gandul. Dengan persentase pengaturan beban yang cukup besar tersebut, sistem pengaturan dan monitoring beban ini menjadi sangat crusial dan penting dalam menjaga kestabilan dan kehandalan sistem tenaga listrik yang saling terinterkoneksi. Hal ini guna memastikan pasokan listrik secara kontinyu dan efisien ke konsumen sesuai dengan kebutuhan beban serta ketersediaan daya yang dapat disalurkan dari sistem pembangkit listrik. Agenda kunjungan terbagi pada 3 sesi utama, dimana 2 sesi merupakan sesi pemaparan materi oleh 2 orang pemateri UIP2B JAMALI sedangkan sesi ke 3 adalah kunjungan ke ruangan pusat monitoring dan pengaturan beban UIP2B JAMALI.
Tema materi yang dibahas pada sesi 1 adalah "Kesiapan Sistem Tenaga Listrik Dalam Menghadapi Penetrasi Renewable Energy di Sistem Jawa, Madura dan Bali" dimana disini dipaparkan tentang penggunaan pembangkit listrik dari sumber-sumber energi baru terbaharukan seperti energi surya, angin dan panas bumi. Penggunaan sumber energi baru terbaharukan ditujukan untuk mengurangi penggunaan bahan bakar batu bara yang selama ini mendominasi sebagai sumber energi utama yang banyak digunakan pada sistem pembangkit-pembangkit listrik. Selain itu, batu bara merupakan sumber energi yang paling banyak menyumbang emisi gas buangan karbon ke udara / atmosfer. Pemerintah memandang serius permasalahan peningkatan emisi gas buangan karbon seiring dengan kenaikan kebutuhan energi listrik serta berkomitmen untuk mewujudkan Net Zero Emission (NZE) di tahun 2050. Kesiapan sistem tenaga listrik berbasiskan sumber energi baru terbaharukan tentu saja membutuhkan kajian-kajian mendalam mengingat adanya faktor intermittency dari pembangkit listrik terutama yang menggunakan sumber energi tenaga surya dan tenaga angin. Faktor intermittency dapat didefinisikan sebagai kesinambungan jumlah daya / energi listrik yang dapat dihasilkan oleh kedua sumber energi baru terbaharukan tersebut. Pada pembangkit listrik tenaga surya, intermittency yang terjadi disebabkan oleh kondisi / faktor cuaca sehingga paparan energi surya pada panel surya menjadi fluktuatif sedangkan pada pembangkit listrik tenaga angin, kecepatan angin yang diperlukan untuk memutar kincir angin yang berubah setiap saat.
Pada sesi kedua, materi yang disampaikan adalah tentang "Pengenalan Proses Bisnis Sub Bidang SCADA dan Otomasi". Di sesi ini dibahas tentang penggunaan sistem Supervisory Control And Data Acquisition (SCADA) dalam memantau dan mengendalikan sistem tenaga listrik. Salah satu variabel penting yang dipantau dan dikendalikan adalah frekuensi tegangan di jaringan listrik. Nilai dari frekuensi listrik diatur pada kisaran 50 Hz, dengan toleransi sebesar +- 0,2Hz. Frekuensi listrik yang dihasilkan pada sistem pembangkit dipengaruhi oleh kecepatan putaran turbin pembangkit dan besar beban yang digunakan konsumen. Ketika beban yang digunakan semakin naik, maka kecepatan putaran turbin pada pembangkit listrik akan turun sehingga frekuensi listrik juga ikut mengalami penurunan, begitu pula terjadi sebaliknya. Untuk itu sistem SCADA berperan penting dalam memonitor, mengendalikan dan mengoptimasikan sistem pembangkit listrik agar bekerja secara seimbang dan proporsional sesuai dengan kebutuhan daya yang diperlukan konsumen.
Di akhir sesi kunjungan, para mahasiswa/i mendapat kesempatan untuk dapat berkunjung ke ruangan monitoring dan pengaturan beban UIP2B JAMALI. Disini mahasiswa/i memperoleh pemahaman dan penjelasan bagaimana proses monitoring beban dan pembangkit dilakukan, parameter-parameter penting apa saja yang diamati serta langkah-langkah yang dilakukan ketika terjadi gangguan / ketidaknormalan pada sistem, baik yang terjadi disisi pembangkit, jaringan transmisi maupun disisi beban / konsumen.
Galeri Foto