Dosen Teknik Kimia Universitas Pertamina Bahas Metanol Hijau di CNBC Indonesia
Published by: Teknik Kimia
Kamis, 5 Februari 2026
Dibaca: 105 kali
Isu transisi energi dan
pengurangan emisi karbon menjadi tantangan besar bagi Indonesia dan dunia.
Salah satu solusi yang mulai banyak dibahas adalah metanol hijau (green
methanol), bahan bakar rendah karbon yang diproduksi dari gas karbon dioksida
(CO₂) dan hidrogen hijau berbasis energi terbarukan.
Topik ini diangkat oleh
Eduardus Budi Nursanto, Ketua Program Studi Teknik Kimia Universitas Pertamina
sekaligus Tenaga Ahli di Institute of Development of Economics and Finance
(INDEF), melalui artikel opini di CNBC Indonesia berjudul “Revolusi Metanol
Hijau: Menangkap Emisi & Menggerakkan Masa Depan”.
Dalam artikelnya,
Eduardus menjelaskan bahwa metanol selama ini masih banyak diproduksi dari gas
alam. Padahal, metanol hijau menawarkan pendekatan yang lebih ramah lingkungan
karena memanfaatkan CO₂ sebagai bahan baku. Gas CO₂ yang dihasilkan dari proses
industri dapat ditangkap dan diolah kembali menjadi metanol, sehingga mendukung
konsep ekonomi sirkular dan pengurangan emisi karbon.
Metanol hijau juga
memiliki potensi besar sebagai bahan bakar alternatif, khususnya untuk sektor
yang sulit didekarbonisasi secara langsung, seperti pelayaran dan penerbangan.
Selain itu, metanol dapat digunakan sebagai bahan baku berbagai produk kimia dan
bahan bakar berkelanjutan di masa depan.
Kehadiran Ketua Program Studi Teknik Kimia
Universitas Pertamina di media nasional menunjukkan peran aktif sivitas
akademika dalam memberikan pemikiran berbasis ilmu pengetahuan untuk menjawab
tantangan energi nasional. Hal ini sejalan dengan komitmen Teknik Kimia
Universitas Pertamina dalam mengembangkan riset, inovasi, dan pendidikan di
bidang energi berkelanjutan.