Dari laboratorium Teknik Elektro Universitas Pertamina, lahir tiga inovator muda yang mengubah mimpi menjadi kekuatan teknologi nasional. Mereka bukan sekadar lulusan—mereka adalah talenta semikonduktor yang siap memimpin Indonesia ke era kemandirian digital. Dengan semangat juang yang tinggi, Raphael, Pande, dan Rizfa yang merupakan mahasiswa anggota kelompok riset: Electronic Devices Research Group (EDRG) - Universitas Pertamina, di bawah bimbingan Bapak Teuku Muhammad Roffi, Ph.D., telah membuktikan bagaimana pendidikan visioner bisa melahirkan solusi revolusioner untuk tantangan global. Para mahasiswa Indonesia ini mampu merancang akselerator chip yang hemat daya dan cepat. Kisah mereka bukan hanya tentang prestasi akademik, tapi tentang harapan bangsa yang terbangun melalui inovasi.
Kurikulum Visioner: Fondasi Lahirnya Talenta Unggul
Kurikulum 2021 Teknik Elektro Universitas Pertamina, selaras dengan program MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka dan Kampus Berdampak), adalah fondasi kesuksesan ini. Berbasis project-based learning, kurikulum ini mengintegrasikan Capaian Pembelajaran (CPL) terukur yang menekankan keterampilan praktis, inovasi, dan kolaborasi industri. Mahasiswa tak hanya belajar teori—mereka membuat prototipe nyata melalui magang MBKM di ICDEC-Polytron, sambil mengeksplorasi hak belajar di luar kampus. Hasilnya? Lulusan siap kerja, adaptif, dan terdepan dalam teknologi semikonduktor, siap menghadapi revolusi Industri 4.0 di Indonesia. Kurikulum ini juga memastikan fleksibilitas, dengan mata kuliah pilihan yang mendukung konsentrasi seperti Sistem Kendali, Sistem Tenaga, dan Telekomunikasi, sehingga mahasiswa bisa menyesuaikan jalur karir mereka dengan kebutuhan pasar. Inilah yang membuat Universitas Pertamina bukan sekadar lembaga pendidikan, tapi penghasil talenta yang memimpin masa depan.
Inovasi Tiga Garda Terdepan
Raphael Wiswa Santoso Samosir
Mendesain IC untuk akselerator Variational Autoencoder berbasis inline-array di FPGA, yang memangkas latensi . Karyanya ini mempercepat pemrosesan data AI tanpa mengorbankan akurasi, untuk edge computing di perangkat pintar seperti smartphone atau drone otonom. Terinspirasi dari magang MBKM di Polytron, Raphael mengintegrasikan arsitektur semi-paralel yang efisien, mengurangi penggunaan resource FPGA seperti LUT dan DSP hingga 67%.
Pande Kadek Tresna Juliana
Menginspirasi lewat akselerator CNN berbasis Depthwise Separable Convolution dan Operand Isolation Multiplier, yang mengurangi penggunaan DSP hingga 25% sambil menjaga akurasi 87,7%. Karya ini membuat pemrosesan citra lebih hemat daya, cocok untuk aplikasi real-time seperti pengenalan wajah atau deteksi objek di kendaraan otonom. Dari pengalaman magang di Polytron, Pande mengoptimalkan multiplier untuk efisiensi, menghasilkan desain yang revolusioner dalam mengurangi konsumsi daya dinamis hingga 33,9%. Di industri, ini berarti perangkat IoT yang lebih tahan lama, mendukung visi Indonesia sebagai pusat teknologi Asia Tenggara, dengan manfaat seperti penghematan energi di smart city atau manufaktur cerdas.
Rizfa Suhendra
Merancang akselerator perkalian matriks berbasis Register-Less Systolic Array dan Sparse Computing, yang meningkatkan kecepatan hingga 58% pada data sparse. Desain ini mengurangi latensi komputasi AI secara dramatis, tanpa register ekstra yang boros, ideal untuk model Large Language Model (LLM) di pusat data.
"Melihat mahasiswa kami berkembang dari rangkaian program Pendidikan yang berkesinambungan sehingga mampu mengolah teori menjadi inovasi nyata, saya sangat bangga—ini menunjukkan kurikulum kami efektif dalam membentuk lulusan yang tanggap dengan perkembangan zaman."
— Teuku Muhammad Roffi, Ph.D., Dosen Pembimbing
Dampak Nyata untuk Kemandirian Teknologi Bangsa
Capaian riset trio ini selaras dengan roadmap semikonduktor Indonesia, di mana kebutuhan chip efisien melonjak untuk AI, IoT, dan energi terbarukan. Akselerator mereka mengatasi isu latensi dan daya, mendukung visi pemerintah membangun talenta nasional melalui MBKM. Bagi perusahaan seperti Polytron, ini berarti produksi lebih murah; bagi investor, peluang emas di pasar global; bagi pemerintah, langkah maju menuju kemandirian teknologi. Inovasi ini tak hanya teknis—ia membangkitkan semangat bangsa, membuka lapangan kerja baru dan mendorong ekspor teknologi tinggi.