Jakarta, 24 November 2025 – Laporan IEA 2025 mencatat emisi CO₂ sektor energi mencapai 37,8 Gt pada 2024. Teknologi bersih seperti surya, angin, nuklir, mobil listrik, dan pompa panas sudah menekan 2,6 Gt emisi tiap tahun. Data ini menunjukkan bahwa kita perlu mendorong solusi energi bersih untuk menahan pemanasan global, menjaga iklim, dan mendorong SDG 7 Energi Bersih dan Terjangkau.
Menanggapi masalah tersebut, delegasi Universitas Pertamina meraih Juara 1 pada Lomba Karya Tulis Ilmiah Eco Polis di Universitas Airlangga. Tim menampilkan riset aplikatif tentang solusi energi bersih. Prestasi ini menunjukkan kemampuan mahasiswa menghasilkan ide yang relevan, siap diterapkan, dan mendukung pengembangan energi berkelanjutan di Indonesia.
Kompetisi nasional ini diikuti oleh sekitar 200 peserta dari perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Seleksi ketat menyaring para peserta yang menjadi 25 tim semifinalis, dilanjut dengan 6 tim yang memiliki skor tertinggi mendapat undangan presentasi offline di Surabaya untuk memperebutkan posisi puncak.
Tim Universitas Pertamina yang terdiri dari Quinadiene Nasywa Azzura, Muzaki Ahmad Fathir, dan Nasywa Azaria. Mahasiswa ini berasal dari program studi Teknik Elektro dan Teknik Sipil angkatan 2024. Didiukung oleh Dr. Eng. Muhammad Abdillah yang membimbing mereka untuk mendorong riset dan capaian kompetitif.
Dalam ajang tersebut, tim Universitas Pertamina mempersembahkan inovasi berjudul MoPI dan MopiApps. Sistem ini memanfaatkan teknologi Internet of Things (IoT) untuk menilai kelayakan lahan mangrove serta membantu pemetaan, pemantauan, dan pengelolaan ekosistem mangrove secara akurat dan efisien.
Sistem ini membantu dalam menilai kelayakan lahan mangrove dengan sensor IoT yang memberi data lapangan secara cepat dalam memetakan area, memantau kondisi, dan mengelola ekosistem dengan lebih tepat. Sistem ini mengurangi kesalahan manual dan membantu pengguna mendapatkan keputusan berbasis data yang mendukung restorasi mangrove.
Quinadiene menjelaskan bahwa ide ini lahir dari keinginan mereka untuk mengoptimalkan peran teknologi dalam menjaga kelestarian lingkungan. “Kami ingin menghadirkan solusi yang tidak hanya inovatif, tetapi juga berdampak langsung bagi pengelolaan ekosistem mangrove. MoPI menjadi jembatan antara teknologi dan konservasi,” ujar Quinadiene.
Melalui capaian ini, Universitas Pertamina terus mendorong kolaborasi lintas disiplin untuk mendukung inovasi berbasis sains dan teknologi. Kemenangan ini diharapkan menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk terus berkreasi, berkompetisi, dan menghadirkan solusi nyata bagi tantangan lingkungan global. [MP]