Indonesia, negara yang sering terkena bencana alam, memiliki indeks kerentanan bencana sebesar
43,5 dari 100 menurut World Risk Report 2023. Hal ini menempatkan Indonesia dalam kategori risiko
bencana sangat tinggi. Pada 2023, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 4.940
bencana dengan kerugian besar, termasuk 267 korban jiwa dan kerusakan pada lebih dari 34.000
rumah dan 877 fasilitas.
Sebagai negara yang terletak di pertemuan lempeng tektonik, Indonesia perlu memperkuat mitigasi
dan penanggulangan bencana. Laporan tersebut menyoroti kurangnya kapasitas kesiapsiagaan,
penanganan pasca bencana, dan distribusi logistik kebencanaan di Indonesia.
Untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan dalam pengelolaan bencana, tiga mahasiswa
dari Program Studi Teknik Logistik Universitas Pertamina (UPER)—Echa Ratu Prety Claudia
Situmeang, Pauline Nancy Deslin Layman, dan I Dewa Gde Yogindra Adipramana—terpilih mewakili
Indonesia dalam pelatihan di Kochi College, Jepang, pada 22-29 Maret 2024. Pelatihan ini berfokus
pada penerapan teknologi dan efisiensi distribusi logistik kebencanaan.
Jepang, meski juga rentan bencana, diakui World Economic Forum memiliki kesiapsiagaan bencana
yang sangat baik, berkat kolaborasi antara pasukan pengamanan dan sektor swasta dalam distribusi
logistik. "Jepang unggul dalam manajemen bencana, terutama dalam skema distribusi logistik. Kami
juga belajar tentang penggunaan teknologi kebencanaan, seperti Sistem Informasi Geografis (SIG),"
kata Echa pada Selasa, 7 Mei 2024.
SIG merupakan teknologi yang membantu melacak ketersediaan, transportasi, dan distribusi pangan
serta obat-obatan. Teknologi ini juga mendukung penyediaan fasilitas bantuan cadangan dengan
prioritas dan aksesibilitas yang dioptimalkan di wilayah rawan bencana.
Pelatihan di Kochi College diikuti oleh 30 mahasiswa dari berbagai negara, termasuk Indonesia,
Thailand, Malaysia, Mongolia, Taiwan, dan Jepang. Mereka juga melihat simulasi kebencanaan dan
penerapan teknologi secara nyata. "Saya belajar dari perspektif berbeda tentang kebencanaan. Di
Jepang, edukasi kebencanaan sangat diterapkan di berbagai golongan usia, bahkan menggunakan
game Minecraft untuk edukasi bencana," tambah Echa.
Iwan Sukarno, Ketua Program Studi Teknik Logistik UPER, yang mendampingi mahasiswa,
menyatakan kebanggaannya karena UPER dapat berpartisipasi dalam kegiatan internasional ini.
"Program studi kami mempelajari logistik kemanusiaan, distribusi, dan transportasi, serta
perencanaan fasilitas logistik. Melalui pelatihan ini, kami memperluas pemahaman penggunaan
teknologi untuk kebencanaan," ujarnya.
Sebagai bagian dari internasionalisasi, UPER terus mendukung pertukaran pelajar, magang, dan riset
kolaborasi dengan universitas luar negeri. "Dengan tujuan menjadi World Class University pada
2035, UPER mengembangkan program Center of Excellence untuk penelitian dan program Lulusan
Merah Putih untuk persiapan dunia kerja," tutup Prof. Wawan Gunawan A. Kadir, Rektor Universitas
Pertamina.
UPER juga akan menyambut mahasiswa Kochi College yang akan mengikuti short course di Indonesia
pada September mendatang, memperkuat kerja sama internasional dalam upaya mitigasi bencana