Universitas Pertamina (UPER) melalui Program Desa Energi Berdikari (DEB) mendorong kemandirian energi dan peningkatan ekonomi masyarakat di Kelurahan Kota Baru. Program ini hadir sebagai respons atas persoalan pencemaran lingkungan dan tingginya kebutuhan energi di kawasan permukiman padat penduduk yang didominasi industri tempe rumahan.
Sebelumnya, limbah cair produksi tempe dibuang langsung ke aliran sungai setiap hari, sehingga menimbulkan pencemaran lingkungan dan menurunkan kualitas hidup warga. Melalui pendekatan berbasis teknologi terapan dan pemberdayaan masyarakat, UPER menghadirkan solusi yang tidak hanya mengatasi persoalan lingkungan, tetapi juga memberi manfaat ekonomi berkelanjutan.
Sebagai bagian dari implementasi program, tim Sobat Bumi Universitas Pertamina memasang reaktor biogas Biosaka-1 untuk mengolah limbah cair tempe menjadi gas metana yang dimanfaatkan sebagai bahan bakar memasak warga. Selain itu, sistem panel surya turut dipasang untuk mendukung pemenuhan kebutuhan energi berbasis energi terbarukan.
Limbah hasil pengolahan biogas kemudian dimanfaatkan kembali dalam sistem terpadu. Limbah cair diolah menjadi pupuk organik cair untuk mendukung sistem hidroponik Nutrient Film Technique (NFT), sementara limbah padat digunakan sebagai pakan mikroba pada kolam bioflok. Integrasi ini menghubungkan pengelolaan limbah, energi, dan pangan dalam satu ekosistem yang dapat dikelola secara mandiri oleh masyarakat.
Implementasi biogas dan panel surya dalam program ini berkontribusi pada penurunan emisi hingga 18.000 kg CO₂ per tahun, serta penghematan biaya energi lebih dari Rp5 juta per tahun. Dampak tersebut telah dirasakan langsung oleh tiga kepala keluarga yang terlibat dalam tahap awal program, terutama melalui penurunan biaya pembelian LPG dan listrik.
Ketua Pelaksana Program, Afyan Husnan Alzafar, Mahasiswa Penerima Beasiswa Sobat Bumi Universitas Pertamina, menyampaikan bahwa program DEB dirancang sebagai bentuk kolaborasi nyata antara perguruan tinggi dan masyarakat.
“Program ini mendorong kolaborasi nyata. Mahasiswa menerapkan ilmu, dosen mengawal riset terapan, dan warga terlibat langsung dalam pengelolaan limbah serta energi. Dengan proses ini, masyarakat diharapkan mampu mengelola sistem secara mandiri dan berkelanjutan,” ujar Afyan.
Dari sisi ekonomi, sistem bioflok dalam program DEB berpotensi menghasilkan pendapatan hingga Rp7.187.500 per siklus panen, sementara pupuk organik cair mampu menghasilkan tambahan pendapatan sekitar Rp3.000.000 per bulan. Sistem hidroponik juga mendukung ketahanan pangan sekaligus membuka peluang usaha bagi warga sekitar.
Perwakilan Posyantek Mekar Berseri, Bambang Agus H., M.M., menilai kolaborasi ini membawa perubahan positif bagi masyarakat.
“Kerja sama ini memberikan harapan bagi warga. Meski masih tahap uji coba, kami melihat semangat belajar dan perubahan nyata. Warga mulai percaya bahwa pengelolaan limbah dan energi dapat dilakukan secara bersama untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas lingkungan,” jelas Bambang.
Melalui Program Desa Energi Berdikari, Universitas Pertamina menegaskan komitmennya dalam menjalankan peran sosial dan lingkungan melalui pendekatan pendidikan, riset terapan, dan pemberdayaan masyarakat. Program ini diharapkan menjadi model kolaborasi berkelanjutan antara perguruan tinggi dan komunitas dalam menciptakan solusi energi bersih dan peningkatan ekonomi lokal. [MP]