Persaingan karier di sektor energi menuntut lebih dari sekadar penguasaan kompetensi teknis. Industri kini mencari talenta muda yang adaptif, komunikatif, serta mampu menunjukkan kesiapan mental dan profesional sejak tahap seleksi awal.
Pemahaman terhadap proses rekrutmen menjadi bekal penting agar lulusan mampu bersaing dan relevan dengan kebutuhan industri yang terus berkembang.
Universitas Pertamina menghadirkan pengalaman simulasi rekrutmen industri energi melalui program kolaboratif yang mempertemukan mahasiswa dengan para praktisi profesional. Kegiatan ini menjadi ruang belajar strategis untuk menjembatani dunia akademik dan realitas dunia kerja.
Program Studi Teknik Perminyakan Universitas Pertamina bersama Society of Petroleum Engineers (SPE) Java Indonesia Section serta SPE Universitas Pertamina dan Universitas Indonesia Student Chapter menyelenggarakan SPE Ambassador Lecturer Program #1 (ALP #1) pada Sabtu, 24 Januari 2026, di Auditorium Universitas Pertamina.
Kegiatan bertajuk Hiring Day: Employee Recruitment Hacks ini diikuti oleh 40 peserta yang terdiri atas mahasiswa, fresh graduate, dan profesional muda dengan pengalaman kerja maksimal lima tahun.
Para peserta menunjukkan antusiasme tinggi untuk memperdalam pemahaman praktis mengenai strategi rekrutmen dan kesiapan memasuki dunia kerja profesional di sektor energi. ALP #1 dirancang sebagai wadah pengembangan karier bagi generasi muda, khususnya dalam memahami tahapan dan dinamika proses rekrutmen yang umum diterapkan di industri energi.
Melalui pemaparan langsung dari praktisi, peserta memperoleh gambaran komprehensif tentang standar seleksi profesional yang berlaku di perusahaan energi nasional maupun global.
Materi disampaikan oleh para praktisi industri, yakni Lucy Nugraheni, S.Psi. (HR PT COSL Indo), Prayoga Wahyu Pratama, S.T. (Business Development Lead PT OPAC Barata), dan Arinta Fadly, S.T. (Sales and Commercial Manager SLB). Ketiganya membagikan perspektif strategis terkait proses rekrutmen, kualifikasi kandidat yang dicari perusahaan, serta tantangan yang kerap dihadapi pelamar di tahap seleksi.
Dalam sesi diskusi, Lucy Nugraheni menekankan bahwa proses rekrutmen tidak semata-mata menilai kompetensi teknis.
Menurutnya, perusahaan juga mempertimbangkan sikap, pola pikir, serta kesiapan mental kandidat dalam menghadapi tekanan dan dinamika pekerjaan. Melalui simulasi yang dihadirkan, peserta dapat memahami secara langsung bagaimana proses seleksi berlangsung di industri energi.
Rangkaian kegiatan mencakup pembahasan teknis penyusunan CV yang efektif, strategi menghadapi tahapan seleksi, pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD), hingga simulasi wawancara kerja. Pada sesi FGD berbasis studi kasus, peserta diajak menganalisis permasalahan yang merepresentasikan tantangan nyata di sektor energi, sekaligus melatih kemampuan berpikir kritis, kolaborasi tim, dan komunikasi profesional.
“Kegiatan ini memberikan wawasan baru mengenai dunia kerja. Melalui simulasi yang dilakukan, kami jadi lebih memahami pentingnya mengenali potensi diri serta membangun keberanian untuk keluar dari zona nyaman dalam menghadapi tantangan profesional,” ujar Barbara Oktavina, mahasiswa Program Studi Teknik Perminyakan Universitas Pertamina.
Melalui SPE Ambassador Lecturer Program #1, Universitas Pertamina kembali menegaskan komitmennya dalam membekali mahasiswa dengan pengalaman praktis yang relevan dengan kebutuhan industri.