Jakarta — Indonesia menghasilkan lebih dari 60 juta ton sampah per tahun, dengan sebagian besar berasal dari kawasan perkotaan dan masih berakhir di tempat pembuangan akhir tanpa pengolahan optimal. Di sisi lain, tekanan terhadap industri untuk menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) serta transisi menuju circular economy semakin menguat.
Tantangan ini menuntut transformasi sistem pengelolaan limbah berbasis teknologi, transparansi data, dan model bisnis berkelanjutan. Kebutuhan tersebut sekaligus menegaskan urgensi lahirnya talenta keberlanjutan yang mampu mengintegrasikan inovasi digital dan strategi ekonomi sirkular dalam praktik industri.
Merespons dinamika tersebut, Program Studi Magister Sains Keberlanjutan Universitas Pertamina melakukan benchmarking ke Rekosistem pada Senin, 9 Februari 2026, dalam rangka penyusunan Kurikulum MSU 2026. Kegiatan ini mengeksplorasi integrasi circular economy dan digitalisasi pengelolaan limbah untuk memperkuat kompetensi mahasiswa dalam praktik keberlanjutan berbasis industri dan data.
Tim prodi berdiskusi langsung dengan Ernest Layman, CEO dan Co-Founder Rekosistem, membahas sistem pengelolaan limbah terpadu dari hulu ke hilir. Diskusi menyoroti bagaimana digitalisasi memungkinkan pelacakan alur sampah secara real time, optimalisasi material recovery, serta integrasi pelaporan ESG dalam operasional perusahaan. Model ini dinilai relevan untuk diadopsi sebagai studi kasus dan pembelajaran berbasis proyek dalam Kurikulum MSU 2026.
Rekosistem juga memaparkan pendekatan inovatif dalam menciptakan nilai ekonomi dari limbah melalui skema ekonomi sirkular. Transformasi ini tidak hanya mengurangi residu, tetapi juga menciptakan efisiensi biaya dan peluang bisnis baru di sektor pengelolaan lingkungan perkotaan.
Ernest Layman menekankan pentingnya kolaborasi antara industri dan akademisi dalam mempercepat inovasi sistem limbah nasional. “Industri membutuhkan talenta yang memahami pengelolaan sampah secara sistemik dan berbasis data. Kolaborasi dengan universitas mempercepat implementasi circular economy sekaligus meningkatkan efisiensi dan dampak lingkungan secara signifikan,” ujar Ernest.
Ketua Program Studi Magister Sains Keberlanjutan Universitas Pertamina, Dr.Eng.In Mega Mutiara Sari, S.T., M.Si., menegaskan bahwa kurikulum dirancang untuk menjawab kebutuhan industri dan tantangan keberlanjutan perkotaan. “Kami mengintegrasikan circular economy, digitalisasi limbah, dan model bisnis berkelanjutan dalam mata kuliah inti. Mahasiswa harus mampu merancang solusi berbasis data yang aplikatif, bukan hanya memahami konsep. Pendekatan ini menyiapkan lulusan yang siap menghadapi kompleksitas pengelolaan lingkungan modern,” jelas Dr. Mega.
Melalui benchmarking ini, Kurikulum MSU 2026 diperkuat dengan pembelajaran berbasis studi kasus industri, project based learning, serta peluang riset terapan. Integrasi ekonomi sirkular dan digitalisasi limbah menyiapkan lulusan yang mampu berkontribusi dalam transformasi sistem pengelolaan lingkungan nasional menuju model yang lebih efisien, transparan, dan berkelanjutan.
Inisiatif ini sejalan dengan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), melalui penguatan kolaborasi akademik–industri dalam transformasi pengelolaan limbah perkotaan.