Jakarta — Hasil pemantauan mutu air Semester I 2025 yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) terhadap 1.482 sungai di 4.482 lokasi menunjukkan bahwa 70,7% titik pemantauan berada dalam kondisi tercemar, sementara hanya 29,3% yang memenuhi baku mutu. Data ini menegaskan bahwa persoalan kualitas air di Indonesia masih menjadi tantangan serius, termasuk di wilayah perkotaan. Kondisi tersebut berpotensi berdampak langsung pada kesehatan masyarakat, terutama anak-anak usia sekolah yang rentan terhadap penyakit berbasis air. Dalam konteks ini, edukasi dan aksi nyata pengelolaan air bersih menjadi langkah strategis yang tidak dapat ditunda.
Menjawab urgensi tersebut, Universitas Pertamina melalui mahasiswa baru Program Studi Teknik Lingkungan angkatan 2025 menyelenggarakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk Empowering Lives Through Clean pada 9 Februari 2026 di SMPN 141 Jakarta. Kegiatan ini dirancang tidak hanya sebagai penyampaian materi edukatif, tetapi juga sebagai intervensi praktis untuk meningkatkan kualitas air di lingkungan sekolah.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pemaparan materi oleh dosen Teknik Lingkungan Universitas Pertamina, Nurulbaiti Listyendah, S.T., M.T., yang menjelaskan konsep dasar filtrasi air, prinsip kerja penyaringan, fungsi media filtrasi, serta pentingnya pengelolaan air bersih dalam menjaga kesehatan.
“Air bersih bukan hanya soal kejernihan, tetapi soal kesehatan dan kualitas hidup. Melalui demonstrasi filtrasi ini, siswa dapat memahami bahwa teknologi sederhana dapat memberikan dampak besar jika dikelola dengan benar,” ujar Nurulbaiti.
Mahasiswa kemudian melakukan demonstrasi alat filtrasi dengan memperkenalkan komponen dan sistem kerja, sekaligus memperlihatkan perbandingan kondisi air sebelum dan sesudah proses penyaringan. Pendekatan ini memberikan pengalaman visual dan praktis bagi siswa, sehingga mereka tidak hanya memahami teori, tetapi juga melihat langsung bagaimana solusi teknis dapat diterapkan di lingkungan sekitar.
Sebagai puncak kegiatan, dilakukan pemasangan alat filtrasi pada titik yang telah ditentukan di lingkungan sekolah. Siswa menyaksikan secara langsung perubahan kualitas air setelah proses penyaringan sebagai bentuk pembelajaran berbasis solusi nyata.
Kepala SMPN 141 Jakarta, Endah Kadarwati, M.Pd., menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan tersebut. “Program ini sangat bermanfaat karena tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga solusi nyata yang langsung dirasakan di lingkungan sekolah. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut untuk mendukung kesehatan siswa,” ujar Endah.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Pertamina tidak hanya mengimplementasikan ilmu yang dipelajari, tetapi juga menumbuhkan kesadaran lingkungan di kalangan siswa sejak dini. Integrasi edukasi dan pemasangan alat filtrasi menjadi bentuk kontribusi konkret perguruan tinggi dalam menjawab persoalan kualitas air bersih di masyarakat.
Inisiatif ini sejalan dengan SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak) melalui peningkatan akses air yang lebih aman di lingkungan sekolah, serta SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pembelajaran berbasis praktik dan pengalaman langsung. Kegiatan ini juga memperkuat peran perguruan tinggi dalam mendukung peningkatan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.