Logo Universitas Pertamina
ID / EN
Berita Kampus

Limbah Organik Menumpuk? Inilah Teknologi Biogas yang Bisa Jadi Solusi!


Published by: Universitas Pertamina Senin, 8 Desember 2025
Dibaca: 844 kali
Limbah organik menjadi tantangan besar bagi lingkungan di Indonesia. Data KLHK tahun 2023 menunjukkan 60,44% sampah nasional berasal dari aktivitas rumah tangga, didominasi sisa makanan, disusul 11,63% dari aktivitas pasar. Jika dibiarkan menumpuk, limbah organik ini dapat menghasilkan metana atau gas rumah kaca yang jauh lebih kuat dibanding karbon dioksida sehingga perlu pengelolaan yang tepat untuk mengatasinya.

Sebagai solusi, biogas hadir sebagai alternatif energi terbarukan yang memanfaatkan fermentasi limbah organik. Per September 2025, Kementerian ESDM mencatat bahwa bauran energi terbarukan Indonesia mencapai 16%, dengan bioenergi, termasuk biogas menyumbang 7,45% dari total EBT. Data ini menegaskan bahwa pemanfaatan limbah menjadi energi bukan lagi sebuah konsep, tetapi telah menjadi bagian penting dalam transisi energi Indonesia saat ini.

Tidak semua limbah organik dapat diolah dengan cara yang sama. Limbah rumah tangga yang banyak mengandung sisa makanan, limbah pasar yang campurannya beragam, hingga kotoran ternak yang kaya bakteri memiliki karakteristik berbeda. Karena itu, teknologi pengolahan biogas harus disesuaikan agar proses fermentasi berjalan optimal, aman, dan menghasilkan energi yang stabil.

Secara umum, terdapat beberapa metode pengolahan limbah organik menjadi biogas yang paling banyak digunakan:
  1. Digester Rumah Tangga (Household Digester)
    Digester skala kecil ini cocok untuk limbah dapur atau kotoran ternak dalam jumlah terbatas. Prosesnya berlangsung dalam ruang tertutup tanpa oksigen, di mana mikroorganisme memecah bahan organik menjadi gas metana. Sistem ini murah, mudah dirawat, dan banyak diadopsi lewat program BIRU.
  2. Digester Komunal atau Desa Energi
    Digunakan untuk mengolah limbah organik dalam jumlah besar seperti limbah pasar, peternakan sapi, atau limbah agroindustri. Sistem ini menghasilkan gas dalam volume lebih besar sehingga bisa dimanfaatkan untuk penerangan, pembangkit listrik kecil, atau jaringan kompor gas untuk beberapa keluarga.
  3. Digester Industri (Anaerobic Digestion Plant) atau Pengelolaan POME
    Teknologi ini digunakan oleh pabrik minyak sawit, peternakan besar, hingga industri makanan. Limbah cair dan padat diproses dalam reaktor besar bertekanan terkontrol. Gas yang dihasilkan dapat dimurnikan menjadi biomethane dan disalurkan ke jaringan energi industri, sedangkan residu padatnya dimanfaatkan sebagai kompos.
  4. Landfill Gas Recovery
    Pada TPA modern, limbah organik yang membusuk menghasilkan metana yang kemudian ditangkap melalui jaringan pipa bawah tanah. Gas ini dapat diolah menjadi listrik, mengurangi risiko kebakaran TPA, sekaligus menekan emisi gas rumah kaca.
Biogas menawarkan banyak manfaat, namun pemanfaatannya di Indonesia masih terbatas karena infrastruktur instalasi skala kecil belum merata, biaya pembangunan digester yang masih tinggi, serta minimnya edukasi dan teknologi pengolahan yang efisien. Meski begitu, tantangan ini justru membuka peluang besar bagi generasi muda untuk menghadirkan inovasi energi bersih yang lebih adaptif dan berkelanjutan.

Bagi kamu yang ingin berperan dalam masa depan energi Indonesia, memahami isu lingkungan, dan terlibat dalam pengembangan teknologi energi terbarukan seperti biogas, Universitas Pertamina menghadirkan lingkungan belajar yang relevan dengan tuntutan industri energi modern. Melalui kurikulum berbasis riset dan pengalaman praktik, mahasiswa dibekali kemampuan untuk menganalisis persoalan energi sekaligus menciptakan solusi yang berdampak bagi masyarakat. 

Informasi pendaftaran mahasiswa baru dapat diakses melalui laman resmi https://pmb.universitaspertamina.ac.id/


Thumbnail
Bagikan:
Bagikan ke WhatsApp
Bagikan ke Facebook
Bagikan ke X
Bagikan ke Telegram
Bagikan ke LinkedIn

Tinggalkan Balasan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalan UU ITE

© 2026 Universitas Pertamina.
All rights reserved