Tantangan pengeboran minyak dan gas yang semakin kompleks mendorong lahirnya inovasi teknis dari kalangan mahasiswa. Menjawab kebutuhan tersebut, Tim Kebayoran Fluida Universitas Pertamina berhasil meraih 1st Runner-Up pada Drilling Fluid Competition PETROFORIA yang diselenggarakan oleh IATMI Student Chapter STT Migas Balikpapan.
Tim yang terdiri dari Raditya Demas Pratama, Keira Ananda Qalbunissa Rahim, dan Daffa Alfariza Rahman, mahasiswa Program Studi Teknik Perminyakan angkatan 2022 Universitas Pertamina, ditantang untuk merancang solusi fluida pengeboran yang mampu menjawab permasalahan nyata yang kerap dihadapi industri minyak dan gas.
Dalam kompetisi tersebut, tim menganalisis kondisi pengeboran dengan tingkat kesulitan tinggi, salah satunya karakteristik High Pressure High Temperature (HPHT). Kondisi ini merujuk pada sumur dengan tekanan dan temperatur yang sangat tinggi sehingga berpotensi menimbulkan gangguan kestabilan selama proses pengeboran.
Menanggapi kondisi tersebut, Tim Kebayoran Fluida merancang desain fluida pengeboran untuk menjaga kestabilan sumur, meningkatkan efisiensi operasi, serta mempertimbangkan aspek biaya dan lingkungan.
Pendekatan yang diterapkan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pemetaan potensi risiko pada setiap tahapan pengeboran, perancangan komposisi fluida pengeboran, hingga penyusunan prosedur operasi serta rencana antisipasi apabila terjadi gangguan di lapangan. Pendekatan ini kemudian menjadi dasar pengembangan inovasi fluida pengeboran yang lebih ramah lingkungan dan adaptif terhadap kondisi ekstrem.
Sebagai bentuk inovasi, tim mengembangkan bahan tambahan ramah lingkungan berupa kombinasi partikel berukuran nano dan bahan alami yang dicampurkan ke dalam fluida pengeboran berbasis air. Bahan tambahan ini berfungsi membantu menjaga kestabilan fluida pada kondisi tekanan dan suhu tinggi, sekaligus mengurangi dampak lingkungan.
Salah satu anggota tim, Keira Ananda Qalbunissa Rahim, menyampaikan bahwa kompetisi ini memberikan pengalaman berharga dalam memahami tantangan industri migas secara nyata.
“Kami belajar bahwa dalam pengeboran tidak ada solusi yang benar-benar ideal. Yang terpenting adalah merancang solusi paling memungkinkan dengan risiko yang dapat dikendalikan, tanpa mengabaikan aspek biaya dan lingkungan,” ungkap Keira.
Prestasi yang diraih Tim Kebayoran Fluida ini menunjukkan peran aktif mahasiswa Universitas Pertamina dalam menghadirkan inovasi yang aplikatif dan relevan dengan kebutuhan industri energi nasional.
Capaian ini juga sejalan dengan komitmen terhadap United Nations Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau serta Tujuan 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Inovasi fluida pengeboran yang lebih efisien dan ramah lingkungan menjadi kontribusi nyata dalam mendukung praktik industri energi yang lebih berkelanjutan, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam mendorong transisi menuju pengelolaan sumber daya yang bertanggung jawab.
[MV]