Logo Universitas Pertamina
ID / EN
Berita Kampus

Selaraskan Kurikulum Transisi Energi, MSU UPER Benchmarking ke PLN Energi Primer Indonesia


Published by: Universitas Pertamina Jumat, 27 Februari 2026
Dibaca: 81 kali
Jakarta — Komitmen Indonesia mencapai Net Zero Emission pada 2060 menempatkan sektor ketenagalistrikan sebagai salah satu kunci dekarbonisasi nasional. Transformasi bauran energi, pengelolaan energi primer, serta penguatan rantai pasok rendah karbon menjadi agenda strategis yang menentukan arah transisi energi Indonesia. Dalam konteks ini, PT PLN Energi Primer Indonesia memegang peran sentral sebagai entitas yang mengelola pengadaan dan strategi energi primer bagi sistem ketenagalistrikan nasional. Dinamika tersebut menuntut lahirnya talenta keberlanjutan yang memahami keterkaitan antara kebijakan energi, manajemen pasokan, prinsip ESG, dan strategi dekarbonisasi secara terintegrasi.

Menjawab kebutuhan tersebut, Program Studi Magister Sains Keberlanjutan Universitas Pertamina melakukan benchmarking ke PT PLN Energi Primer Indonesia pada 9 Februari 2026 sebagai bagian dari penyusunan Kurikulum MSU 2026. Benchmarking ini dilakukan untuk memastikan kurikulum selaras dengan kebutuhan industri energi nasional, khususnya dalam manajemen energi primer berkelanjutan dan implementasi strategi transisi energi berbasis kebijakan dan praktik industri.

Tim prodi melakukan audiensi dengan Komisaris PT PLN Energi Primer Indonesia, Dr. Julizar Idris, S.E., M.Si., beserta jajaran manajemen. Diskusi menyoroti penguatan kompetensi mahasiswa dalam memahami strategi pengadaan energi primer, optimalisasi efisiensi sistem, serta langkah konkret mendukung target Net Zero melalui pendekatan operasional dan kebijakan yang realistis.

Pembahasan juga menekankan integrasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam sektor ketenagalistrikan. Industri tidak lagi hanya berorientasi pada ketersediaan energi, tetapi juga pada pengurangan emisi, kepatuhan regulasi, serta transparansi pelaporan keberlanjutan. Perspektif ini menjadi landasan penting dalam merancang materi berbasis studi kasus industri dan project-based learning dalam Kurikulum MSU 2026.

Ketua Program Studi Magister Sains Keberlanjutan Universitas Pertamina, Dr.Eng.In Mega Mutiara Sari, S.T., M.Si., menegaskan bahwa penguatan kurikulum merupakan respons akademik terhadap transformasi energi nasional. “Transisi energi membutuhkan pendekatan sistemik. Mahasiswa harus memahami manajemen energi primer, prinsip ESG, serta strategi dekarbonisasi secara aplikatif. Kurikulum kami arahkan agar mereka mampu membaca kompleksitas kebijakan dan praktik industri secara simultan,” ujar Dr. Mega.

Dr. Julizar Idris menambahkan bahwa kolaborasi dengan perguruan tinggi menjadi investasi jangka panjang bagi industri energi. “Industri membutuhkan lulusan yang memahami rantai pasok energi dan tantangan dekarbonisasi secara komprehensif. Sinergi ini membuka ruang kuliah praktisi, riset terapan, dan magang agar mahasiswa siap menghadapi kebutuhan sektor energi bersih,” jelas Dr. Julizar.

Melalui benchmarking ini, Kurikulum MSU 2026 diperkuat dengan integrasi studi kasus ketenagalistrikan nasional, strategi pengelolaan energi primer, serta roadmap dekarbonisasi industri. Penguatan ini menempatkan lulusan Magister Sains Keberlanjutan sebagai talenta yang adaptif dan strategis dalam mendukung transformasi sistem energi Indonesia menuju keberlanjutan.

Inisiatif ini sejalan dengan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau), SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), melalui kolaborasi akademik–industri dalam mempercepat transisi energi nasional.

Thumbnail Thumbnail
Bagikan:
Bagikan ke WhatsApp
Bagikan ke Facebook
Bagikan ke X
Bagikan ke Telegram
Bagikan ke LinkedIn

Tinggalkan Balasan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalan UU ITE

© 2026 Universitas Pertamina.
All rights reserved