BALIKPAPAN-Pemerintah Provinsi Kaltim terus berusaha meningkatkan cakupan penggunaan energi bersih dan mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.
Hal tersebut dikatakan Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kaltim, Munawwar, selepas menggelar pertemuan tertutup dengan Menteri Energi Uni Eropa (EU), H.E. Kadri Simson, Minggu (4/9) malam.
Dalam pertemuan tersebut, Uni Eropa menyatakan kesiapannya membantu Kaltim dalam upaya transisi energi bersih. Apalagi, pihaknya membutuhkan partner strategis untuk mewujudkan visi energi bersih.
Munawwar mengatakan, pemaikaian energi bersih di Kaltim hingga 2021 kemarin masih berada di angka 6,5 persen. Capaian ini, kata dia, masih jauh dari target 12 persen penggunaan energi terbarukan pada 2025 mendatang.
“Pada pertemuan tadi dibahas soal kesediaan Uni Eropa membantu Provinsi Kaltim dalam pengembangan energi bersih. Mereka siap membantu peningkatan SDM, pertukaran pengetahuan bahkan secara finansial,” kata Munawwar.
Kaltim, kata dia, juga menjelaskan potensi energi bersih yang dimiliki, baik dari potensi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) maupun tenaga angin.
Dirinya berharap akan ada pertemuan lanjutan dengan Uni Eropa untuk membahas lebih detail rencana kerjasama dalam bidang energi terbarukan ini.
Menteri Energi Uni Eropa (EU), H.E. Kadri Simson mengatakan, transisi ke sumber energi yang lebih bersih tak hanya penting untuk mengatasi perubahan iklim, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan melindungi lingkungan.
Uni Eropa telah berkomitmen untuk mencapai netralitas iklim pada tahun 2050 dan secara signifikan meningkatkan bauran energi terbarukan dan efisiensi energi pada tahun 2030.
“Untuk memastikan bahwa transisi energi di tingkat global, kita perlu bekerja sama dengan mitra di seluruh dunia, dan Indonesia adalah negara kunci dalam hal ini," kata Menteri Simson.
Selain Indonesia, dirinya mengaku Vietnam dan India juga menjadi partner potensial dalam kerjasama ini. Sejauh ini, dia mengaku baru Afrika Selatan yang resmi menjadi mitra Uni Eropa dalam upaya mewujudkan transisi energi bersih dan berkeadilan, sesuai dengan pertemuan global terkait perubahan iklim di Glasgow, Skotlandia, tahun lalu.
Untuk mempercepat transisi energi, Uni Eropa telah mengembangkan berbagai kebijakan untuk mendukung peluncuran proyek energi terbarukan yang lebih cepat sambil memensiunkan bahan bakar fosil secara bertahap. Paket kebijakan 'Fit for 55', khususnya, dilengkapi dengan serangkaian tindakan spesifik di masing-masing sektor untuk memastikan kemajuan dalam transisi energi di semua sektor ekonomi, termasuk industri, bangunan, pemanas dan pendingin, serta transportasi.
Implementasi paket tersebut akan mengurangi emisi gas rumah kaca Uni Eropa sebesar 55% pada tahun 2030. Rencana 'REPowerEU' akan semakin mempercepat transisi energi bersih dengan prosedur perizinan yang lebih cepat dan penyebaran tenaga surya, biometana, hidrogen terbarukan, dan heatpumps yang lebih besar.
Memastikan keadilan sosial dari transisi energi merupakan prioritas utama bagi Uni Eropa baik di dalam maupun di luar negeri. Uni Eropa dan Negara-negara Anggotanya mengambil bagian dalam Kelompok Kemitraan Internasional untuk membentuk Kemitraan Transisi Energi yang Adil dengan Indonesia, yang akan memberikan bantuan keuangan dan teknis untuk mentransisikan sektor energi Indonesia secara adil dan inklusif, tanpa meninggalkan siapa pun.
Dalam diskusi dengan Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Timur hari ini, Menteri Simson menekankan kesiapan Uni Eropa untuk bekerja sama dengan mitra internasional, seperti Indonesia, dalam transisi hijau dan adil.
"Uni Eropa memiliki banyak pengalaman dalam menghijaukan sistem energi kami dan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil. Saya di sini hari ini untuk belajar bagaimana pengalaman ini dapat bermanfaat bagi Indonesia dan Kalimantan. Energi terbarukan, infrastruktur hijau, dan efisiensi energi adalah area untuk investasi yang produktif dan berkelanjutan dan ini sangat tepat waktu dengan rencana relokasi Indonesia untuk ibu kota baru di Kalimantan," ujarnya.
Di sisi lain, Kadri mengaku transisi dari energi fosil ke energi bersih juga mesti memikirkan nasib pekerja di sektor pertambangan. “Mereka juga mesti mendapat pekerjaan baru, sehingga dalam proses transisi ini tidak ada yang ditinggalkan,” jelas dia.
Kunjungan ke Kalimantan Timur merupakan bagian kehadiran Menteri Simson di Rapat Menteri-Menteri Transisi Energi di G20 dan juga untuk menjalin hubungan bilateral antara Uni Eropa dan Indonesia dalam sektor energi. (hul)