Rencana Pemerintah Pensiunkan PLTU Batu Bara Disambut Positif
Published by: beritasatu.com
Rabu, 16 Februari 2022
Dibaca: 815 kali
Jakarta - Baran Energy startup di bidang Energi Baru Terbarukan (EBT) menyambut baik dan mendukung rencana pemerintah menghentikan penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) secara bertahap hingga 2030.
CEO Baran Energy Victor Wirawan mengatakan, selama ini PLTU berbasis batu bara telah memicu tingginya tingkat emisi karbon. Di sisi lain, kebijakan pemerintah juga bisa menekan jumlah pemakaian bahan bakar fosil yang cadangannya semakin menipis.
"Pemerintah kita bergerak cepat untuk mengurangi emisi karbon. Langkah ini juga untuk mengatasi acaman krisis energi yang telah menghebohkan sejumlah negara maju beberapa waktu terakhir,” tutur Victor dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (16/2/2022).
Menurut Victor, kebijakan ini sejalan dengan komitmen pemerintah untuk mengurangi emisi karbon atau peralihan dari energi berbahan batu bara ke EBT yang lebih ramah lingkungan.
"Dengan dihentikannya operasional PLTU sebanyak 5,5 gigawatt (GW), Baran Energy siap mendukung dan bekerja sama dengan pemerintah dalam mengadakan pembangkit listrik EBT yang terkenal ramah lingkungan, bersih, dan tidak menggunakan fosil," tandasnya.
Sebagaimana diketahui, Baran Energy adalah perusahaan baterai listrik di Indonesia dan berfokus kepada energy storage system (ESS) atau penyimpanan energi yang dihasilkan melalui matahari, air dan angin ke dalam sebuah baterai raksasa. Energi yang disimpan dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik siang dan malam, baik untuk rumah tinggal, bisnis maupun industri.
Ketiga jenis ESS tersebut adalah Baran Powerhome kapasitas penyimpanan 8kwh, Baran Powerpack 96kwh, dan Baran Powercube 1mwh. Perangkat ini dapat ditingkatkan daya simpannya sampai tidak terbatas.
Saat ini, ESS Baran Energy telah terpasang di sejumlah proyek properti, industri, perumahan, bahkan perkantoran. ESS Baran Energy juga bisa digunakan juga sebagai penampung listrik yang dihasilkan oleh pembangkit. Selain memproduksi ESS, Baran Energy baru-baru ini juga memproduksi motor listrik yang diberi nama Anubis Cruisercross.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut B Pandjaitan memastikan pemerintah akan menghentikan penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Kebijakan ini, seiring komitmen pemerintah untuk mengurangi emisi karbon atau peralihan dari energi berbahan batu bara ke energi baru terbarukan (EBT) yang lebih ramah lingkungan.
Pemerintah akan menghentikan operasional PLTU sebanyak 5,5 gigawatt (GW) pada 2030 mendatang. Targetnya, porsi pembangkit EBT dapat mencapai 51% dalam Rencana Usaha Penyediaan Listrik (RUPTL) sejak 2021 hingga tahun 2030 mendatang.
"Indonesia mempunyai potensi besar di energi baru terbarukan. Bertahap, pemerintah akan pensiunkan pembangkit batu bara. Untuk pembangkit batu bara total ada 5,5 GW bakal digantikan sebelum 2030,” kata Luhut B Pandjaitan di acara Mandiri Investment Forum 2022, Rabu (9/2/2022).
Pemerintah telah menerbitkan regulasi untuk mendukung rencana penghentian operasi dari PLTU itu lebih cepat salah satunya melalui Peraturan Presiden No 98/2021 tentang Penyelenggaran Nilai Ekonomi Karbon untuk pencapaian target kontribusi yang ditetapkan secara nasional dan pengendalian emisi gas rumah kaca dalam pembangunan nasional. Di samping itu, pemerintah juga akan mulai mengimplementasikan aturan pemberian pajak karbon pada April 2022 untuk PLTU yang masih beroperasi.
Luhut B Pandjaitan menargetkan, pemerintah akan menghentikan operasional PLTU sebanyak 5,5 gigawatt (GW) pada 2030 mendatang. Targetnya porsi pembangkit EBT dapat mencapai 51% dalam Rencana Usaha Penyediaan Listrik (RUPTL) sejak 2021 hingga tahun 2030 mendatang. "Untuk pembangkit batu bara total ada 5,5 GW bakal digantikan sebelum 2030,” kata Luhut.
Bagikan:
Bagikan ke WhatsApp
Bagikan ke Facebook
Bagikan ke X
Bagikan ke Telegram
Bagikan ke LinkedIn
Tinggalkan Balasan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalan UU ITE