Logo Universitas Pertamina
ID / EN
Berita Energi

Kenapa Indonesia Masih Impor LPG? Ini Kata Dirut Pertamina


Published by: Ivestor.id Senin, 10 Januari 2022
Dibaca: 2072 kali
JAKARTA, investor.id – Hingga saat ini, Indonesia ternyata masih merupakan negara pengimpor LPG. Sekitar 70% dari kebutuhan LPG harus didatangkan dari luar negeri. Selain konsumsi yang terus meningkat dari tahun ke tahun, ternyata ada kendala lain yang menyebabkan kondisi tersebut.

“Suplai LPG kita memang kurang, karena secara teknis karakter gas yang kita produksi dry , kurang C3 dan C4,” kata Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati dalam acara Focus Group Discussion (FGD) dan kunjungan pimpinan redaksi media nasional di Balikpapan, Sabtu (8/1/2022).

Di sisi lain, kata Nicke, konsumsi LPG terus meningkat. Untuk itu perlu dicarikan subsitusi untuk menggantikan LPG, dengan sumber daya yang melimpah di Indonesia, yakni batu bara. Dalam hal ini, batu bara diregasifikasi (coal gasification) menjadi dimethyl ether (DME).

“Kita tahu bahwa indonesia mempunyai sumber daya alam yang sangat besar. Tapi kenapa tejadi krisis energi, impor masih tinggi? Karena teknologi. Bagaimana kita beri solusi terhadap impor LPG yang masih 70% adalah dengan batubara yang ada di dalam negeri, dengan coal gasification, dimethul ether (DME),” papar Nicke.

Menurut Nicke, orang boleh mengatakan bahwa batu bara kotor dan sebagainya. Tapi dengan teknologi, batu bara ini bisa bersih. “Malah dari hasil penelitian kita, DME kalau dibakar untuk memasak, karbon emisinya lebih rendah dari LPG. Tekologi kuncinya,” kata Nicke.

Pertamina pun, kata Nicke, membuka diri dengan pakar pemilik teknologi yang sudah proven, untuk memproses ini.

Pemerintah sendiri menargetkan bisa menyetop impor LPG pada 2030. Target ini pun sudah masuk dalam Grand Strategy Energi Nasional.

Tercatat, kebutuhan energi nasional mencapai 8,8 juta ton per tahun. Namun, produksi dalam negeri hanya mencapai 2 juta ton per tahun, atau sekitar 6,8 juta ton masih impor. Pemerintah menargetkan bisa menyetop impor LPG pada 2030. Target ini pun sudah masuk dalam Grand Strategy Energi Nasional.

Untuk mencapai target setop impor LPG, pemerintah akan melakukan berbagai upaya, di antaranya mengandalkan kilang-kilang migas yang sudah ada dan yang sedang dalam proses pembangunan. Potensi dari kilang-kilang tersebut mencapai 5.000 ton.

Upaya menekan impor LPG juga akan dilakukan dengan mendorong pemanfaatan jaringan gas (jargas) bumi dan pemanfaatan dimethyl ether (DME). DME atau gasifikasi batu bara merupakan proyek yang saat ini sedang digarap pemerintah bersama PT Bukit Asam Tbk (Persero) dan PT Pertamina (Persero) dan perusahaan Air Product dari Amerika Serikat.

Di sisi lain, pemerintah juga tengah meningkatkan pemanfaatkan kompor listrik oleh masyarakat. Pada tahap awal Kementerian ESDM bersama Kementerian BUMN mengejar target penggunaan 1 juta kompor listrik dengan segmen yang disasar yakni pegawai di kementerian/lembaga serta perusahaan-perusahaan negara. Ini sekaligus untuk mengenalkan ke masyarakat terkait penggunaan kompor listrik yang lebih hemat energi dan bersih ketimbang kompor gas.

Editor : Euis Rita Hartati (euis_somadi@yahoo.com)

Sumber : Investor Daily
Thumbnail
Bagikan:
Bagikan ke WhatsApp
Bagikan ke Facebook
Bagikan ke X
Bagikan ke Telegram
Bagikan ke LinkedIn

Tinggalkan Balasan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalan UU ITE

© 2026 Universitas Pertamina.
All rights reserved